1. Adanya kepatuhan
2. Formasi Koalisi (sub kelompok dalam kelompok yang lebih besar)
Perubahan-perubahan dalam power holder:
1. Memperlebar jarak sosial antara dirinya dengan orang lain yang tidak punya power
2. Yakin bahwa yang nonpowerful tidak dapat dipercaya dan butuh “waskat” (pengawasan yang ketat)
3. Tidak menilai pekerjaan dan kemampuan dari orang yang kurang berkuasa
Perubahan-perubahan ketika powerless:
a. pasif dan menerima situasi
b. memberontak akan ketidaksamaan dan berusaha mendapatkan persamaan struktur
c. berusaha meningkatkan power secara tertutup dengan koalisi
d. menarik diri secara total dari kelompok
Referensi : klara innata arishanti
Selasa, 30 November 2010
dasar-dasar kekuasaan
Dasar atau sumber kekuasaan dibagi menjadi dua pengelompokan umum : formal
dan personal.
1. Kekuasaan Formal
Kekuasaan formal didasarkan pada posisi individu dalam organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan memaksa atau menghadiahi, wewenang formal, dan kendali atas informasi.
a. Kekuasaan Paksaan (coercive power)
Ketergantungan pada rasa takut Seseorang bereaksi terhadap kekuasaan ini karena rasa takut akan akibat negative yang mungkin terjadi apabila ia gagal memenuhi. Misalnya dikenakan sanksi-sanksi fisik dan psikologis.
b. Kekuasaan Hadiah/Imbalan (reward power), lawan dari kekuasaan
paksaan Seseorang mematuhi kemauan atau pengarahan orang lain karena
kepatuhan itu menghasilkan manfaat yang positif. Imbalan dapat berupa keuangan ( tingkat upah, kenaikan gaji, bonus ) atau nonkeuangan ( pengakuan atas jasanya, promosi, penugasan kerja yang menarik, dll).
c. Kekuasaan Hukum (legitimate power)
Menggambarkan wewenang formal untuk mengendalikan dan
menggunakan sumber daya organisasi. Posisi wewenang atau kekuasaan mencakup kekuasaan paksaan dan kekuasaan imbalan, sehingga kekuasaan hukum lebih luas daripada kekuasaan paksaan dan imbalan.
d. Kekuasaan Informasi
Berasal dari akses dan pengendalian atas informasi Orang-orang dalam organisasi yang memiliki data atau pengetahuan yang dibutuhkan oleh orang lain dapat membuat orang lain tergantung pada mereka.
2. Kekuasaan Personal
Kekuasaan personal tidak didasarkan pada posisi formal pada organisasi. Ada tiga dasar dari kekuasaan personal, yaitu kepakaran, penghormatan dan kekaguman dari orang lain, serta karisma.
a. Kekuasaan Pakar (expert power)
Pengaruh yang dimilki seseorang sebagai akibat dari kepakaran atau keahlian, ketrampilan istimewa, dan pengetahuan.
b. Kekuasaan Rujukan (referent power)
Didasarkan pada identifikasi pada orang yang mempunyai sumberdaya atau ciri pribadi yang diinginkan orang lain. Kekuasaan rujukan berkembang dari pengaguman seseorang terhadap orang lain dan keinginan untuk menjadi orang tersebut.
c. Kekuasaan Kharismatik Merupakan perluasan dari kekuasaan rujukan yang berasal dari kepribadian dan gaya interpersonal individu.
Referensi : http://www.scribd.com/doc/22054342/Kekuasaan-Dan-Politik
dan personal.
1. Kekuasaan Formal
Kekuasaan formal didasarkan pada posisi individu dalam organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan memaksa atau menghadiahi, wewenang formal, dan kendali atas informasi.
a. Kekuasaan Paksaan (coercive power)
Ketergantungan pada rasa takut Seseorang bereaksi terhadap kekuasaan ini karena rasa takut akan akibat negative yang mungkin terjadi apabila ia gagal memenuhi. Misalnya dikenakan sanksi-sanksi fisik dan psikologis.
b. Kekuasaan Hadiah/Imbalan (reward power), lawan dari kekuasaan
paksaan Seseorang mematuhi kemauan atau pengarahan orang lain karena
kepatuhan itu menghasilkan manfaat yang positif. Imbalan dapat berupa keuangan ( tingkat upah, kenaikan gaji, bonus ) atau nonkeuangan ( pengakuan atas jasanya, promosi, penugasan kerja yang menarik, dll).
c. Kekuasaan Hukum (legitimate power)
Menggambarkan wewenang formal untuk mengendalikan dan
menggunakan sumber daya organisasi. Posisi wewenang atau kekuasaan mencakup kekuasaan paksaan dan kekuasaan imbalan, sehingga kekuasaan hukum lebih luas daripada kekuasaan paksaan dan imbalan.
d. Kekuasaan Informasi
Berasal dari akses dan pengendalian atas informasi Orang-orang dalam organisasi yang memiliki data atau pengetahuan yang dibutuhkan oleh orang lain dapat membuat orang lain tergantung pada mereka.
2. Kekuasaan Personal
Kekuasaan personal tidak didasarkan pada posisi formal pada organisasi. Ada tiga dasar dari kekuasaan personal, yaitu kepakaran, penghormatan dan kekaguman dari orang lain, serta karisma.
a. Kekuasaan Pakar (expert power)
Pengaruh yang dimilki seseorang sebagai akibat dari kepakaran atau keahlian, ketrampilan istimewa, dan pengetahuan.
b. Kekuasaan Rujukan (referent power)
Didasarkan pada identifikasi pada orang yang mempunyai sumberdaya atau ciri pribadi yang diinginkan orang lain. Kekuasaan rujukan berkembang dari pengaguman seseorang terhadap orang lain dan keinginan untuk menjadi orang tersebut.
c. Kekuasaan Kharismatik Merupakan perluasan dari kekuasaan rujukan yang berasal dari kepribadian dan gaya interpersonal individu.
Referensi : http://www.scribd.com/doc/22054342/Kekuasaan-Dan-Politik
Sabtu, 27 November 2010
tujuan kelompok
Tujuan ( a goal) merupakan hasil akhir yang dicapai suatu kelompok yang sedang bekerja. Tujuan kelompok di susun atas berdasarkan moyoritas individu yang bekerja untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan merupakan pedoman dalam pencapaian program dan aktivitas serta memungkinkan untuk terukurnya efektifitas dan efisiensi kelompok. Komitmen anggota akan tergantung kepada ketertarikannya terhadap kelompok dan tujuan kelompok. Tingkat resiko dalam pencapaian tujuan kelompok harus ditetapkan dan dipantau secara hati-hati, resiko kegagalan yang moderat lebih termotivasi.
menurut Winkel & Sri Hastuti (2004: 547) adalah menunjang perkembangan pribadi dan perkembangan sosial masing-masing anggota kelompok serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna aneka tujuan yang bermakna bagi para partisipan.
Tujuan kelompok yang efektif harus mempunyai aspek-aspek sebagai berikut:
- dapat didefinisikan secara operasional, dapat diukur dan diamati
- Punya makna bagi anggota kelompok, relevan, realistik dapat diterima dan dapat dicapai
- anggota kelompok mempunyai orientasi terhadap tujuan yang telah ditetapkan
- adanya keseimbangan tugas dan aktivitas dalam mencapai tujuan individu dan kelompok
- bersifat menarik dan menantang serta mempunyai resiko kegagalan yang kecil dalam mencapainya
- adanya kemudahan untuk menjelaskan dan mengubah tujuan kelompok
- berapa lama waktu yang diperlukan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan kelompok
Referensi : http://www.scribd.com/doc/38833655/Tujuan-Pribadi-Dan-Tujuan-Kelompok
http://belajarpsikologi.com/tujuan-bimbingan-kelompok
menurut Winkel & Sri Hastuti (2004: 547) adalah menunjang perkembangan pribadi dan perkembangan sosial masing-masing anggota kelompok serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna aneka tujuan yang bermakna bagi para partisipan.
Tujuan kelompok yang efektif harus mempunyai aspek-aspek sebagai berikut:
- dapat didefinisikan secara operasional, dapat diukur dan diamati
- Punya makna bagi anggota kelompok, relevan, realistik dapat diterima dan dapat dicapai
- anggota kelompok mempunyai orientasi terhadap tujuan yang telah ditetapkan
- adanya keseimbangan tugas dan aktivitas dalam mencapai tujuan individu dan kelompok
- bersifat menarik dan menantang serta mempunyai resiko kegagalan yang kecil dalam mencapainya
- adanya kemudahan untuk menjelaskan dan mengubah tujuan kelompok
- berapa lama waktu yang diperlukan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan kelompok
Referensi : http://www.scribd.com/doc/38833655/Tujuan-Pribadi-Dan-Tujuan-Kelompok
http://belajarpsikologi.com/tujuan-bimbingan-kelompok
Sabtu, 20 November 2010
Kohesivitas dan interaksi
Di dalam suatu kelompok yang anggota-anggotanya memiliki kohesivitas tinggi akan memiliki komunikasi yang intensif antar individu-individunya, saling menghargai yang tinggi, interaksi yang kuat, saling memiliki rasa aman dan akan cenderung melakukan suatu kerja sama. Dari karakteristik tersebut dapat diprediksi bahwa kelompok akan memiliki peran yang sangat kuat disamping sebagai identitas baru dan juga sebagai kontrol sosial bagi tiap anggota individunya. Pada tahap-tahap tertentu peran kelompok akan sangat dominan terhadap anggotanya sehingga mampu mengkaburkan peran-peran individu di dalam kelompok.Setiap tindakan yang akan dilakukan oleh anggota kelompok akan mengacu pada norma kelompok yang dianutnya.
Sumber : http://umum.kompasiana.com
Sumber : http://umum.kompasiana.com
Kohesivitas dan pengaruh sosial
Terbentuknya berbagai kelompok dalam kehidupan manusia merupakan wujud dari hakikat manusia, khususnya dari dimensi kesosialannya. Manusia adalah makhluk sosial tang tak mungkin dapat hidup berkembang secara layak apabila ia hidup sendiri dan menyendiri. Oleh akrna itulah, manusia berkelompok atau membentuk sebuah kelompok untuk hidup bersama dan berkumpul.
Kelompok pada dasarnya dimulai dari berkumpulnya sejumlah orang. Orang-orang ini menjunjung suatu atau beberapa kualitas tertentu sehingga dengan demikian kumpulan tersebut menjadi sebuah kelompok. Tetapi perlu diingat bahwa orang yang berkumpul dalam sebuah ruangan dan berjumlah besar tidak dapat dikatakan sebagai kelompok dikarenakan tidak adanya kesepakatan atau konsensus dalam mencapai sebuah tujuan atau tepatnya menjunjung suatu atau beberapa kualitas.
Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada mereka diberitahukan tujuan yang akan dicapai.
Sumber : http://prari007luck.wordpress.com
Kelompok pada dasarnya dimulai dari berkumpulnya sejumlah orang. Orang-orang ini menjunjung suatu atau beberapa kualitas tertentu sehingga dengan demikian kumpulan tersebut menjadi sebuah kelompok. Tetapi perlu diingat bahwa orang yang berkumpul dalam sebuah ruangan dan berjumlah besar tidak dapat dikatakan sebagai kelompok dikarenakan tidak adanya kesepakatan atau konsensus dalam mencapai sebuah tujuan atau tepatnya menjunjung suatu atau beberapa kualitas.
Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada mereka diberitahukan tujuan yang akan dicapai.
Sumber : http://prari007luck.wordpress.com
Faktor-faktor yang menurunkan kohesivitas kelompok
• Ketidaksepakatan kelompok yaitu dimana di dalam para anggota kelompok tidak memiliki ketidaksepakatan di dalam memberikan suatu pendapat yang akan menimbulkan menurunnya kohesivitas suatu kelompok.
• Jumlah anggota yang besar yaitu dapat menimbulkan menurunnya kohesivitas kelompok dikarenakan banyaknya pendapat-pendapat dari para anggota kelompok yang sulit untuk desepakati menjadi satu tujuan bersama.
• Pengalaman tidak menyenangkan yaitu dimana dari salah satu anggota kelompok memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan yang berupa suatu konflik antar anggota kelompok yang menyebabkan menurunnya kohesivitas di suatu kelompok.
• Dominasi oleh salah satu anggota yaitu dimana didalam kelompok ada salah satu anggota yang terlalu mendominasi yang menyebabkan iri di antara anggota kelompok yang dapat menimbulkan perpecahan di dalam kelompok.
• Kompetisi antar anggota kelompok yaitu dimana di dalam suatu anggota kelompok terjadi kompetisi yang bertujuan untuk menunjukan siapa yang paling hebat di dalam kelompok yang dapat menimbulkan konflik juga di dalam kelompok.
• Jumlah anggota yang besar yaitu dapat menimbulkan menurunnya kohesivitas kelompok dikarenakan banyaknya pendapat-pendapat dari para anggota kelompok yang sulit untuk desepakati menjadi satu tujuan bersama.
• Pengalaman tidak menyenangkan yaitu dimana dari salah satu anggota kelompok memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan yang berupa suatu konflik antar anggota kelompok yang menyebabkan menurunnya kohesivitas di suatu kelompok.
• Dominasi oleh salah satu anggota yaitu dimana didalam kelompok ada salah satu anggota yang terlalu mendominasi yang menyebabkan iri di antara anggota kelompok yang dapat menimbulkan perpecahan di dalam kelompok.
• Kompetisi antar anggota kelompok yaitu dimana di dalam suatu anggota kelompok terjadi kompetisi yang bertujuan untuk menunjukan siapa yang paling hebat di dalam kelompok yang dapat menimbulkan konflik juga di dalam kelompok.
Faktor-faktor yang meningkatkan kohesivitas kelompok
• Kesepakatan tujuan kelompok yaitu merupakan di dalam suatu kelompok para anggotanya harus memiliki kesepakatan bersama untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan di dalam suatu kelompok tersebut.
• Frekuensi interaksi yaitu dimana setiap kelompok harus memilik frekuensi yang tinggi dalam berinteraksi diantara anggota kelompok guna membentuk kelompok yang efektif dan mencapai tujuan bersama di suatu kelompok.
• Ketertarikan pribadi yaitu dimana di dalam pribadi antar anggota kelompok harus memiliki ketertarikan pada setiap anggota guna mempermudah berinteraksi dan mencapai suatu kesepakatan bersama.
• Frekuensi interaksi yaitu dimana setiap kelompok harus memilik frekuensi yang tinggi dalam berinteraksi diantara anggota kelompok guna membentuk kelompok yang efektif dan mencapai tujuan bersama di suatu kelompok.
• Ketertarikan pribadi yaitu dimana di dalam pribadi antar anggota kelompok harus memiliki ketertarikan pada setiap anggota guna mempermudah berinteraksi dan mencapai suatu kesepakatan bersama.
Pengertian kohesivitas
Kohesivitas adalah merupakan keinginan setiap anggota untuk mempertahankan keanggotaan mereka dalam kelompok, yang didukung oleh sejumlah kekuatan independen, tetapi banyak yang lebih berfokus pada ketertarikan antar anggota. (Festinger, Schater, & Back, 1950). Salah satu variable yang mempengaruhi kohesivitas menurut Lott (1965) adalah kepribadian. Collins dan Raven (1964) mendefinisikan kohesivitas adalah kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal di dalam kelompok dan mencegahnya meninggalkan kelompok.
Referensi : www.digilib.ui.ac.id
Referensi : www.digilib.ui.ac.id
Rabu, 10 November 2010
pencegahan didalam groupthink
Pencegahan di dalam groupthink
1. Membatasi pencarian keputusan secara dini
a. Meningkatkan open inquiry
b. Kepemimpinan yang efektif
c. Multiple group
2. Mengoreksi mispersepsi dan error
a. Mengakui keterbatasan
b. Empati
c. Pertemuan (kesepakatan kedua)
3. Menggunakan teknik-teknik keputusan yang efektif
a. Kelompok harus terima tantangan dengan memilih solusi yang mungkin terbaik.
b. Kelolompok harus mencari alternative solusi dengan membuat daftar
c. Evaluasi sistematik terhadap alternative-alternatif pada tahap-tahap hasil yaitu konsesus
d. Mengubah konsesus menjadi keputusan
e. Mematuhi keputusan yang diambil
Referensi : Klara innata arishanti
1. Membatasi pencarian keputusan secara dini
a. Meningkatkan open inquiry
b. Kepemimpinan yang efektif
c. Multiple group
2. Mengoreksi mispersepsi dan error
a. Mengakui keterbatasan
b. Empati
c. Pertemuan (kesepakatan kedua)
3. Menggunakan teknik-teknik keputusan yang efektif
a. Kelompok harus terima tantangan dengan memilih solusi yang mungkin terbaik.
b. Kelolompok harus mencari alternative solusi dengan membuat daftar
c. Evaluasi sistematik terhadap alternative-alternatif pada tahap-tahap hasil yaitu konsesus
d. Mengubah konsesus menjadi keputusan
e. Mematuhi keputusan yang diambil
Referensi : Klara innata arishanti
Groupthink
Groupthink
Definisi dari groupthink adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif dimana anggota-angotanya berusaha mempertahankan konsesus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.
A. Gejala dari groupthink
Tingginya tekanan konformitas
Sensor diri terhadap ide-ide yang tidak disetujui
Adanya Minguard yaitu :
- Gate keeping ialah mencegah informasi dari luar agar jangan sampai mempengaruhi kesepakatan kelompok.
- Dissent containment ialah mengabaikan mereka-mereka yang memiliki ide-ide yang bertentangan dengan kesepakatan
Persetujuan yang tampak
Kelompok selalu benar dan kuat
Ilusi moral
Persepsi bias tentang out group
Collective rationalizing
B. Penyebab dari groupthink
Kohesi yang ekstrem
Isolasi, leadership dan konflik decisional
Proses polarisasi
Referensi : Klara innata arishanti
Definisi dari groupthink adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif dimana anggota-angotanya berusaha mempertahankan konsesus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.
A. Gejala dari groupthink
Tingginya tekanan konformitas
Sensor diri terhadap ide-ide yang tidak disetujui
Adanya Minguard yaitu :
- Gate keeping ialah mencegah informasi dari luar agar jangan sampai mempengaruhi kesepakatan kelompok.
- Dissent containment ialah mengabaikan mereka-mereka yang memiliki ide-ide yang bertentangan dengan kesepakatan
Persetujuan yang tampak
Kelompok selalu benar dan kuat
Ilusi moral
Persepsi bias tentang out group
Collective rationalizing
B. Penyebab dari groupthink
Kohesi yang ekstrem
Isolasi, leadership dan konflik decisional
Proses polarisasi
Referensi : Klara innata arishanti
penyebab deindividuasi
Penyebab deindividuasi
1. Rendahnya identiafibilitas seseorang
2. Menimbulkan rasa beranggota di dalam kelompok
3. Ukuran kelompok yang dimana semakin besar suatu kelompok maka semakin mudah terjadinya deindividuasi
4. Kebangkitan personil yang dimana di dalam deindividuasi tidak jarang yang menimbulkan amarah.
1. Rendahnya identiafibilitas seseorang
2. Menimbulkan rasa beranggota di dalam kelompok
3. Ukuran kelompok yang dimana semakin besar suatu kelompok maka semakin mudah terjadinya deindividuasi
4. Kebangkitan personil yang dimana di dalam deindividuasi tidak jarang yang menimbulkan amarah.
Deindividuasi
Deindividuasi
Definisi dari deindividuasi itu sendiri adalah proses hilangnya kesadaran individu karena melebur di dalam kelompok yang merupakan pikiran kolektif.
A. Perspektif teoritis
• Teori perilaku kolektif
Kolektif berdefinisikan sebagai kumpulan individu yang lebih dari sekedar agregat, tapi juga bukan kelompok sebenarnya.
Kolektif juga mempunyai berbagai tipe yaitu:
-Social agregat ialah collective outburst (riots,mobs)
-Collective movement ialah organisasi politik,kampanye nasional
1. Teori konvergen adalah teori yang agregatnya mewakili orang dengan kebutuhannya,keinginannya dan emosi situasi crowd memicu pelepasan spontan dari perilaku-perilaku yang sebelumnya terkontrol.
2. Teori contagion (penularan) adalah emosi dan perilaku yang dapat ditransmisi dari satu orang ke orang lain sehingga orang cenderung berperilaku sangat mirip dengan orang lain.
B. Teori deindividuasi
• Kondisi yaitu yang meliputi :
-Anonimity
-Responsibility
-Anggota kelompok
-Arousal
• Keadaan terdeindividuasi
-Lost of self (awareness dan regulation)
-Self monitorinf
-Gagal memperhatikan norma norma relevan
-sedikit menggunakan penguat untuk membangkitkan diri
-Gagal melakukan rencana jangka panjang
• Perilaku deindividuasi
-Emosi yang impulsive,irasional,regresif.
-Tidak dibawah kendali stimulus
-melawan norma
-pleasurable
Referensi : klara innata arishanti
Definisi dari deindividuasi itu sendiri adalah proses hilangnya kesadaran individu karena melebur di dalam kelompok yang merupakan pikiran kolektif.
A. Perspektif teoritis
• Teori perilaku kolektif
Kolektif berdefinisikan sebagai kumpulan individu yang lebih dari sekedar agregat, tapi juga bukan kelompok sebenarnya.
Kolektif juga mempunyai berbagai tipe yaitu:
-Social agregat ialah collective outburst (riots,mobs)
-Collective movement ialah organisasi politik,kampanye nasional
1. Teori konvergen adalah teori yang agregatnya mewakili orang dengan kebutuhannya,keinginannya dan emosi situasi crowd memicu pelepasan spontan dari perilaku-perilaku yang sebelumnya terkontrol.
2. Teori contagion (penularan) adalah emosi dan perilaku yang dapat ditransmisi dari satu orang ke orang lain sehingga orang cenderung berperilaku sangat mirip dengan orang lain.
B. Teori deindividuasi
• Kondisi yaitu yang meliputi :
-Anonimity
-Responsibility
-Anggota kelompok
-Arousal
• Keadaan terdeindividuasi
-Lost of self (awareness dan regulation)
-Self monitorinf
-Gagal memperhatikan norma norma relevan
-sedikit menggunakan penguat untuk membangkitkan diri
-Gagal melakukan rencana jangka panjang
• Perilaku deindividuasi
-Emosi yang impulsive,irasional,regresif.
-Tidak dibawah kendali stimulus
-melawan norma
-pleasurable
Referensi : klara innata arishanti
Kamis, 04 November 2010
Tahapan Performing
Pelaksanaan (Performing)
• Dicirikan oleh berfungsinya kelompok
• Struktur, hirarki dan norma kelompok sudah mapan
• Kelompok sudah matang.
• Merupakan tahap terakhir bagi kelompok kerja permanen.
Tahapan performing
A. Coaction Paradigm
beberapa orang melakukan tugas dan ditempat yang sama, tetapi tidak saling berinteraksi, misalnya: ujian dikelas.
B. Audience Paradigm (passive spectators)
kehadiran orang lain justru menghambat kinerja, misalnya: menghapal
pelajaran ditengah orang banyak
Penelitian Robert Zajonc:
• Respon dominan
fasilitasi sosial yang ada meningkatkan kinerja seseorang, maka respon dominan itu sesuai.
• Respon nondominan
fasilitasi sosial yang ada menurunkan kinerja seseorang, maka respon
dominan itu tidak sesuai.
Penyebab fasilitasi sosial:
1. adanya dorongan
2. kekhawatiran akan penilaian (evaluasi) orang lain
3. distraksi (perhatian yang terpecah)
Performance Dalam Kelompok yang Berinteraksi
Tipologi tugas dari Steiner didasarkan pada kombinasi antara:
- jenis-jenis tugas yang dapat dibagi
- jenis-jenis hasil yang diinginkan
- prosedur-prosedur individu dalam memberi masukan
Memprediksi Performance Kelompok
Klasifikasi tugas penting karena:
- tipe tipe tugas yang berbeda memerlukan sumber daya yang berbeda
- jika anggota kelompok mempunyai sumberdaya tersebut maka akan sukses.
Meningkatkan performance kelompok:
1. Proses komunikasi
2. Proses perencanaan → strategi-strategi kinerja
3. Prosedur-prosedur khusus:
a. Brainstorming, terdapat 4 syarat utama:
• expressiveness : bebas mengekspresikan apa saja yang
ada dalam benak kita
• nonevaluative : tidak ada pendapat yang baik atau buruk,
semua pendapat berharga
• quantity : semakin banyak ide, semakin kreatif
• building : ide-ide yang disampaikan seperti puzzle (ide-ide
tersebut masih kasar, harus disusun dulu)
b. Nominal Group Technique (NGT)
pemimpin memberikan permasalahan ke forum lalu ditulis di
whiteboard. Setiap orang disuruh maju ke whiteboard untuk
menuliskan gagasan lalu dipilih mana yang paling baik.
c. Delphi Technique
pemimpin membuat kuesioner, anggota disuruh mengisi
kuesioner tersebut. Setelah diisi dikembalikan ke pemimpin lalu
diberi feedback, dikembalikan lagi ke anggota, demikian terus
menerus sampai ditemukan solusi yang baik
d. Synectics (bahasa Yunani = bergabung bersamanya elemenelemen
yang berbeda dan nampaknya tidak relevan)
bentuk spesial dari brainstorming. Kita disuruh berpikir lebih
kreatif, berpikir secara divergen, dapat memberikan ide bermacammacam.
Sumber : http://rinoan.staff.uns.ac.id
Klara innata arishanti
• Dicirikan oleh berfungsinya kelompok
• Struktur, hirarki dan norma kelompok sudah mapan
• Kelompok sudah matang.
• Merupakan tahap terakhir bagi kelompok kerja permanen.
Tahapan performing
A. Coaction Paradigm
beberapa orang melakukan tugas dan ditempat yang sama, tetapi tidak saling berinteraksi, misalnya: ujian dikelas.
B. Audience Paradigm (passive spectators)
kehadiran orang lain justru menghambat kinerja, misalnya: menghapal
pelajaran ditengah orang banyak
Penelitian Robert Zajonc:
• Respon dominan
fasilitasi sosial yang ada meningkatkan kinerja seseorang, maka respon dominan itu sesuai.
• Respon nondominan
fasilitasi sosial yang ada menurunkan kinerja seseorang, maka respon
dominan itu tidak sesuai.
Penyebab fasilitasi sosial:
1. adanya dorongan
2. kekhawatiran akan penilaian (evaluasi) orang lain
3. distraksi (perhatian yang terpecah)
Performance Dalam Kelompok yang Berinteraksi
Tipologi tugas dari Steiner didasarkan pada kombinasi antara:
- jenis-jenis tugas yang dapat dibagi
- jenis-jenis hasil yang diinginkan
- prosedur-prosedur individu dalam memberi masukan
Memprediksi Performance Kelompok
Klasifikasi tugas penting karena:
- tipe tipe tugas yang berbeda memerlukan sumber daya yang berbeda
- jika anggota kelompok mempunyai sumberdaya tersebut maka akan sukses.
Meningkatkan performance kelompok:
1. Proses komunikasi
2. Proses perencanaan → strategi-strategi kinerja
3. Prosedur-prosedur khusus:
a. Brainstorming, terdapat 4 syarat utama:
• expressiveness : bebas mengekspresikan apa saja yang
ada dalam benak kita
• nonevaluative : tidak ada pendapat yang baik atau buruk,
semua pendapat berharga
• quantity : semakin banyak ide, semakin kreatif
• building : ide-ide yang disampaikan seperti puzzle (ide-ide
tersebut masih kasar, harus disusun dulu)
b. Nominal Group Technique (NGT)
pemimpin memberikan permasalahan ke forum lalu ditulis di
whiteboard. Setiap orang disuruh maju ke whiteboard untuk
menuliskan gagasan lalu dipilih mana yang paling baik.
c. Delphi Technique
pemimpin membuat kuesioner, anggota disuruh mengisi
kuesioner tersebut. Setelah diisi dikembalikan ke pemimpin lalu
diberi feedback, dikembalikan lagi ke anggota, demikian terus
menerus sampai ditemukan solusi yang baik
d. Synectics (bahasa Yunani = bergabung bersamanya elemenelemen
yang berbeda dan nampaknya tidak relevan)
bentuk spesial dari brainstorming. Kita disuruh berpikir lebih
kreatif, berpikir secara divergen, dapat memberikan ide bermacammacam.
Sumber : http://rinoan.staff.uns.ac.id
Klara innata arishanti
Norming pembentukan struktur kelompok
Penormaan (Norming)
• Dicirikan oleh hubungan dan kohesivitas kelompok menjadi erat.
• Mulai bekerja efektif secara bersama-sama
• Ada perasaan kebersamaan dan perasaan berada dalam satu kelompok.
• Harapan kelompok mulai dikomunikasikan
Tahapan dalam Norming
1. Peran (role)
Peran (role) merupakan perilaku yang biasanya ditampilkan orang sebagai
anggota kelompok yang menyediakan basis harapan berkaitan dengan perilaku orang dalam posisi yang bervariasi dalam kelompok.
Perbedaan peran :
• Task roles → tugas
• Socioemotional roles → sosioemosi
Teori 3 dimensi peran :
a. dominance – submission
b. friendly – unfriendly
c. instrumentally controlled – emotionally eupressive
Konflik peran :
• interrole : konflik antara 2 atau lebih peran yang dijalani oleh 1 orang
• intrarole : konflik antara peran 1 orang dengan peran orang lain
2. Norma (norm)
Norma (norm) merupakan aturan-aturan yang menggambarkan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil oleh anggota kelompok.
3. Hubungan antar anggota
otoritas, hubungan ketertarikan, hubungan komunikasi
Sumber : http://rinoan.staff.uns.ac.id
Klara innata arishanti
• Dicirikan oleh hubungan dan kohesivitas kelompok menjadi erat.
• Mulai bekerja efektif secara bersama-sama
• Ada perasaan kebersamaan dan perasaan berada dalam satu kelompok.
• Harapan kelompok mulai dikomunikasikan
Tahapan dalam Norming
1. Peran (role)
Peran (role) merupakan perilaku yang biasanya ditampilkan orang sebagai
anggota kelompok yang menyediakan basis harapan berkaitan dengan perilaku orang dalam posisi yang bervariasi dalam kelompok.
Perbedaan peran :
• Task roles → tugas
• Socioemotional roles → sosioemosi
Teori 3 dimensi peran :
a. dominance – submission
b. friendly – unfriendly
c. instrumentally controlled – emotionally eupressive
Konflik peran :
• interrole : konflik antara 2 atau lebih peran yang dijalani oleh 1 orang
• intrarole : konflik antara peran 1 orang dengan peran orang lain
2. Norma (norm)
Norma (norm) merupakan aturan-aturan yang menggambarkan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil oleh anggota kelompok.
3. Hubungan antar anggota
otoritas, hubungan ketertarikan, hubungan komunikasi
Sumber : http://rinoan.staff.uns.ac.id
Klara innata arishanti
Kamis, 28 Oktober 2010
penyebab konflik
Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik
Lima tahap perkembangan konflik dalam kelompok
Munculnya disagreement, pertengkaran dan friksi diantara anggota kelompok
yang melibatkan kata-kata, emosi dan tindakan.
Tahap-tahap perkembangan konflik:
1. Disagreement
perlu segera diindentifikasi disagreementnya:
• apakah benar-benar ada atau sekedar kesalahpahaman
• apakah perlu segera ditangani atau terselesaikan sendiri
• jika benar-benar ada dan menyangkut beberapa faktor situasional
minor
2. Confrontation
dua orang atau lebih saling bertentangan → verbal attack.
diakhir tahap ini, tingkat koalisi (sub kelompok dalam kelompok)
dimana anggota kelompok menjadi terpolarisasi (membentuk blok-blok).
3. Escalation
pada tahap ini, anggota kelompok menjadi semakin kasar, suka
memaksa, mengancam, sampai pada kekerasan fisik → timbul mosi tidak
percaya (distrust), frustasi dan negatif reciprocity.
4. Deescalation
berkurang atau menurunnya konflik
anggota mulai sadar waktu dan energi yang terbuang sia-sia dengan
berdebat
Mekanisme pengolahan konflik:
a. Negosiasi : secara interpersonal sengan asumsi bahwa tiap orang akan
mendapatkan keuntungan dengan adanya situasi
- distributive issues : negosiasi berhasil, satu pihak puas, pihak yang lain
mengikuti karena pihak yang lain itu memiliki power
- integrative issues : negosiasi berhasil, kedua pihak merasa puas (win
win solution)
b. Membangun kepercayaan : dengan mengkomunikasikan keinginan
individu secara hati-hati dan harus konsisten antara apa yang diomongkan
dengan perilaku aktualnya
5. Conflict Resolution
tiap konflik sampai pada tahap ini, meskipun tidak semua pihak puas
akan hasilnya
Sumber : klara innata arishanti
yang melibatkan kata-kata, emosi dan tindakan.
Tahap-tahap perkembangan konflik:
1. Disagreement
perlu segera diindentifikasi disagreementnya:
• apakah benar-benar ada atau sekedar kesalahpahaman
• apakah perlu segera ditangani atau terselesaikan sendiri
• jika benar-benar ada dan menyangkut beberapa faktor situasional
minor
2. Confrontation
dua orang atau lebih saling bertentangan → verbal attack.
diakhir tahap ini, tingkat koalisi (sub kelompok dalam kelompok)
dimana anggota kelompok menjadi terpolarisasi (membentuk blok-blok).
3. Escalation
pada tahap ini, anggota kelompok menjadi semakin kasar, suka
memaksa, mengancam, sampai pada kekerasan fisik → timbul mosi tidak
percaya (distrust), frustasi dan negatif reciprocity.
4. Deescalation
berkurang atau menurunnya konflik
anggota mulai sadar waktu dan energi yang terbuang sia-sia dengan
berdebat
Mekanisme pengolahan konflik:
a. Negosiasi : secara interpersonal sengan asumsi bahwa tiap orang akan
mendapatkan keuntungan dengan adanya situasi
- distributive issues : negosiasi berhasil, satu pihak puas, pihak yang lain
mengikuti karena pihak yang lain itu memiliki power
- integrative issues : negosiasi berhasil, kedua pihak merasa puas (win
win solution)
b. Membangun kepercayaan : dengan mengkomunikasikan keinginan
individu secara hati-hati dan harus konsisten antara apa yang diomongkan
dengan perilaku aktualnya
5. Conflict Resolution
tiap konflik sampai pada tahap ini, meskipun tidak semua pihak puas
akan hasilnya
Sumber : klara innata arishanti
Forming dalam menjadi sebuah kelompok
A. Pandangan Psikoanalisis
Freud : orang bergabung dalam kelompok karena keanggotaan dapat
memuaskan kebutuhan dasar biologis dan psikologis tertentu.
B. Pandangan Sosiobiologi
Menurut pandangan ini, orang bergabung dengan kelompok untuk
memuaskan keinginan yang kuat untuk berafiliasi secara biologis.
Didasarkan teori evolusi dari Charles Darwin : bergabung dengan anggota
lain dari satu spesies merupakan ekspresi strategi yang stabil secara evolusioner
dan kultural dari individu yang dapat meningkatkan rerata kesuksesan
reproduksi.
c. Pandangan Pertukaran Sosial
Model ketertarikan kelompok, dengan mempertimbangkan :
1. reward
2. cost
→ minimax principle (berusaha untuk mendapatkan reward yang sebesarbesarnya
dan mengurangi cost yang sekecil-kecilnya).
d. Perspektif pertukaran Sosial
Leon Festinger (1950, 1954) : orang membutuhkan orang lain karena mereka
membutuhkan informasi tentang diri mereka dan lingkungan mereka dan
kebutuhan akan informasi. Ini hanya dapat dipenuhi dari orang lain. Individu
membandingkan diri mereka dengan orang lain tentang keyakinan, opini dan
sikap mereka → apakah benar, valid, sesuai.
Sumber: klara Innata arishanti
Freud : orang bergabung dalam kelompok karena keanggotaan dapat
memuaskan kebutuhan dasar biologis dan psikologis tertentu.
B. Pandangan Sosiobiologi
Menurut pandangan ini, orang bergabung dengan kelompok untuk
memuaskan keinginan yang kuat untuk berafiliasi secara biologis.
Didasarkan teori evolusi dari Charles Darwin : bergabung dengan anggota
lain dari satu spesies merupakan ekspresi strategi yang stabil secara evolusioner
dan kultural dari individu yang dapat meningkatkan rerata kesuksesan
reproduksi.
c. Pandangan Pertukaran Sosial
Model ketertarikan kelompok, dengan mempertimbangkan :
1. reward
2. cost
→ minimax principle (berusaha untuk mendapatkan reward yang sebesarbesarnya
dan mengurangi cost yang sekecil-kecilnya).
d. Perspektif pertukaran Sosial
Leon Festinger (1950, 1954) : orang membutuhkan orang lain karena mereka
membutuhkan informasi tentang diri mereka dan lingkungan mereka dan
kebutuhan akan informasi. Ini hanya dapat dipenuhi dari orang lain. Individu
membandingkan diri mereka dengan orang lain tentang keyakinan, opini dan
sikap mereka → apakah benar, valid, sesuai.
Sumber: klara Innata arishanti
Proses pembentukan kelompok
1. Identifikasi
energi emosi individu (libido) diarahkan ke dirinya dan orang lain.
Individu menjadikan orang lain (orang tua) sebagai model egonya → EGO
IDEAL. Penerimaan orang tua sebagai objek kasih sayang anak akan
membentuk ikatan yang kuat → kepuasan melalui sense of belonging,
kesalingtergantungan, perlindungan terhadap ancaman luar dan
meningkatkan self development.
2. Transferen
bagaimana pembentukan kelompok pada masa awal kehidupan
individu mempengaruhi perilaku kelompok selanjutnya. Individu melihat
pemimpin kelompok sebagai figur otoritas sebagaimana individu
menganggap orang tuanya.
Sumber : Klara innata arishanti
energi emosi individu (libido) diarahkan ke dirinya dan orang lain.
Individu menjadikan orang lain (orang tua) sebagai model egonya → EGO
IDEAL. Penerimaan orang tua sebagai objek kasih sayang anak akan
membentuk ikatan yang kuat → kepuasan melalui sense of belonging,
kesalingtergantungan, perlindungan terhadap ancaman luar dan
meningkatkan self development.
2. Transferen
bagaimana pembentukan kelompok pada masa awal kehidupan
individu mempengaruhi perilaku kelompok selanjutnya. Individu melihat
pemimpin kelompok sebagai figur otoritas sebagaimana individu
menganggap orang tuanya.
Sumber : Klara innata arishanti
Selasa, 19 Oktober 2010
Proses dinamika gerakan massa
Proses Dinamika Gerakan Massa yaitu meliputi :
1. Pemusatan perhatian
2. Penciptaan suasana kebersamaan
3. Pusat rasa kagum dan perasaan berada pada suatu massa
4. Pemimpin membayar massa kemana aktivitas akan massa akan dituju
1. Pemusatan perhatian
2. Penciptaan suasana kebersamaan
3. Pusat rasa kagum dan perasaan berada pada suatu massa
4. Pemimpin membayar massa kemana aktivitas akan massa akan dituju
Kondisi psikologis individu dalam massa
• Kehilangan kepribadian yang sadar dan rasional, tindakan kasar dan
irasional, menurut secar membabi buta pada pemimpin
• Melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan → agresi
Teori frustasi-agresi dari Fuller-Miller, mengemukakan:
• agresivitas merupakan cerminan dari frustasi yang dirasakan oleh massa
• kuat lemahnya tergantung besar kecilnya hambatan dalam mencapai
tujuan tersebut
Menurut Sidis, individu dalam massa akan terkena hipnotis bentuk ringan
sehingga pertimbangan kritis hilang
-Kondisi Psikologis Individu Dalam Massa
Menurut Gustave Le Bon, massa itu mempunyai sifat-sifat psikologis
tersendiri. Orang yang tergabung dalam suatu massa akan berbuat sesuatu,
yang perbuatan tersebut tidak akan diperbuat bila individu itu tidak tergabung
dalam suatu massa. Sehingga massa itu seakan-akan mempunyai daya
melarutkan individu dalam suatu massa, melarutkan individu dalam jiwa massa.
Seperti yang dikemukakan oleh Durkheim bahwa adnaya individual mind dan
collective mind, yang berbeda satu dengan yang lain. Menurut Gustave Le Bon
dalam massa itu terdapat apa yang dinamakan hukum mental unity atau law
mental unity, yaitu bahwa massa adalah kesatuan mind, kesatuan jiwa.
Menurut Allport, sekalipun kurang dapat menyetujui tentang collective
mind tetapi dapat memahami tentang pemikiran adanya kesamaan (conformity),
tidak hanya dalam hal berpikir dan kepercayaan, tetapi juga dalam hal perasaan
(feeling) dan dalam perbuatan yang tampak (overt behaviour).
Sumber : Klara innata Arishanti
irasional, menurut secar membabi buta pada pemimpin
• Melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan → agresi
Teori frustasi-agresi dari Fuller-Miller, mengemukakan:
• agresivitas merupakan cerminan dari frustasi yang dirasakan oleh massa
• kuat lemahnya tergantung besar kecilnya hambatan dalam mencapai
tujuan tersebut
Menurut Sidis, individu dalam massa akan terkena hipnotis bentuk ringan
sehingga pertimbangan kritis hilang
-Kondisi Psikologis Individu Dalam Massa
Menurut Gustave Le Bon, massa itu mempunyai sifat-sifat psikologis
tersendiri. Orang yang tergabung dalam suatu massa akan berbuat sesuatu,
yang perbuatan tersebut tidak akan diperbuat bila individu itu tidak tergabung
dalam suatu massa. Sehingga massa itu seakan-akan mempunyai daya
melarutkan individu dalam suatu massa, melarutkan individu dalam jiwa massa.
Seperti yang dikemukakan oleh Durkheim bahwa adnaya individual mind dan
collective mind, yang berbeda satu dengan yang lain. Menurut Gustave Le Bon
dalam massa itu terdapat apa yang dinamakan hukum mental unity atau law
mental unity, yaitu bahwa massa adalah kesatuan mind, kesatuan jiwa.
Menurut Allport, sekalipun kurang dapat menyetujui tentang collective
mind tetapi dapat memahami tentang pemikiran adanya kesamaan (conformity),
tidak hanya dalam hal berpikir dan kepercayaan, tetapi juga dalam hal perasaan
(feeling) dan dalam perbuatan yang tampak (overt behaviour).
Sumber : Klara innata Arishanti
Penyebab gerakan massa
Salah satu pandangan berpendapat bahwa manusia itu merupakan
individu yang mempunyai dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang
pada prinsipnya membutuhkan pemuasan atau pemenuhan. Tetapi dalam
kenyataannya tidak semua dorongan atau keinginan itu dapat dilaksanakan
secara baik. Dorongan atau keinginan yang tidak memperoleh pelepasan,
terdorong dan tersimpan dalam alam bawah sadar, yang pada suatu ketika akan
muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan.
Salah satu pendapat yang dikemukakan oelh Freud bahwa struktur pribadi
manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu das es atau the id, yaitu berupa dorongandorongan
yang pada dasarnya dorongan-dorongan tersebut membutuhkan
pemenuhan, ingin muncul dan ingin keluar. Yang kedua adalah das ich atau the
ego, yang merupakan sensor untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya
terutama dengan norma-norma. Yang ketiga, yaitu das uber ich atau the
super ego, merupakan kata hati yang berhubungan dengan moral baik buruk.
Dalam kehidupan bermasyarakat adanya norma-norma tertentu yang
merupakan pedoman-pedoman yang membatsi gerak atau perilaku anggota
masyarakat. Dengan adanya norma-norma itu sebagai anggota masyarakat yang
baik tidak dapat berbuat seenaknya. Ini berarti bahwa norma-norma itu
berfungsi menyesuaikan dengan keadaan lingkungan, yaitu menyesuaikan
dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Sumber : Klara innata Arishanti
individu yang mempunyai dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang
pada prinsipnya membutuhkan pemuasan atau pemenuhan. Tetapi dalam
kenyataannya tidak semua dorongan atau keinginan itu dapat dilaksanakan
secara baik. Dorongan atau keinginan yang tidak memperoleh pelepasan,
terdorong dan tersimpan dalam alam bawah sadar, yang pada suatu ketika akan
muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan.
Salah satu pendapat yang dikemukakan oelh Freud bahwa struktur pribadi
manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu das es atau the id, yaitu berupa dorongandorongan
yang pada dasarnya dorongan-dorongan tersebut membutuhkan
pemenuhan, ingin muncul dan ingin keluar. Yang kedua adalah das ich atau the
ego, yang merupakan sensor untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya
terutama dengan norma-norma. Yang ketiga, yaitu das uber ich atau the
super ego, merupakan kata hati yang berhubungan dengan moral baik buruk.
Dalam kehidupan bermasyarakat adanya norma-norma tertentu yang
merupakan pedoman-pedoman yang membatsi gerak atau perilaku anggota
masyarakat. Dengan adanya norma-norma itu sebagai anggota masyarakat yang
baik tidak dapat berbuat seenaknya. Ini berarti bahwa norma-norma itu
berfungsi menyesuaikan dengan keadaan lingkungan, yaitu menyesuaikan
dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Sumber : Klara innata Arishanti
Jenis gerakan massa
1. Gerakan Massa Progresif
→ merombak norma lama, membentuk norma baru
2. Gerakan Massa Status Quo
→ mempertahankan norma lama (konservatif)
3. Gerakan Massa Reaksioner
→ orang yang bersikap untung-untungan
→ lebih lunak/fleksibel, tidak tegas yang penting golongannya tidak
Dirugikan
Sumber : Klara Innata Arishanti
→ merombak norma lama, membentuk norma baru
2. Gerakan Massa Status Quo
→ mempertahankan norma lama (konservatif)
3. Gerakan Massa Reaksioner
→ orang yang bersikap untung-untungan
→ lebih lunak/fleksibel, tidak tegas yang penting golongannya tidak
Dirugikan
Sumber : Klara Innata Arishanti
Massa aktif dan Massa pasif
1. Massa aktif yang disebut dengan mob terbentuk karena telah adanya
tindakan-tindakan nyata, misalnya demonstrasi, perkelahian massal, dsb
Menurut Mc Laughlin, paling tidak ada 3 kondisi yang melatarbelakangi,
yaitu:
• adanya problem yang cukup serius
• upaya penyelesaian problem yang tertunda
• adanya keyakinan dalam kelompok massa bahwa problem harus
Diselesaikan.
Faktor-faktor yang menyebabkan massa aktif :
• perasaan tidak puas
→ bertukar pikiran → ide baru → perbuatan yang selalu diulang →
jika sudah matang ‘massa’
• tekanan jiwa masyarakat
→ memuncak dan meledak
2. Massa pasif yang disebut dengan audience adalah kumpulan orangorang
yang belum melakukan tindakan nyata, misalnya para mahasiswa yang mendengarkan dosennya yang memberikan materi kuliah, menonton theater, dll
sumber : Klara innata Arishanti
tindakan-tindakan nyata, misalnya demonstrasi, perkelahian massal, dsb
Menurut Mc Laughlin, paling tidak ada 3 kondisi yang melatarbelakangi,
yaitu:
• adanya problem yang cukup serius
• upaya penyelesaian problem yang tertunda
• adanya keyakinan dalam kelompok massa bahwa problem harus
Diselesaikan.
Faktor-faktor yang menyebabkan massa aktif :
• perasaan tidak puas
→ bertukar pikiran → ide baru → perbuatan yang selalu diulang →
jika sudah matang ‘massa’
• tekanan jiwa masyarakat
→ memuncak dan meledak
2. Massa pasif yang disebut dengan audience adalah kumpulan orangorang
yang belum melakukan tindakan nyata, misalnya para mahasiswa yang mendengarkan dosennya yang memberikan materi kuliah, menonton theater, dll
sumber : Klara innata Arishanti
Massa abstrak dan Massa konkret
1. Massa Abstrak adalah sekumpulan orang-orang yang sama sekali belum
terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan.
Alasan timbul :
• ada kejadian menarik
• individu mendapat ancaman
• kebutuhan tidak terpenuhi
2. Massa Kongkrit adalah massa yang mempunyai ciri-ciri:
Ciri-ciri:
• adanya kesatuan mind dan sikap
• adanya ikatan batin dan persamaan norma
• ada struktur yang jelas
• bersifat dinamis dan emosional, sifat massa jelas
Antara masssa abstrak dan massa kongkrit kadang-kadang mempunyai
hubungan, dalam arti bahwa masa abstrak dapat berkembang atau berubah
menjadi massa yang kongkrit dan sebaliknya masa kongkrit dapat berubah
menjadi massa abstrak. Tetapi ada kalanya masa abstrak bubar tanpa adanya
bekas.
Massa abstrak merupakan ego pribadi tercermin dalam diri pemimpin
Massa konkret merupakan ego massa kepentingan masih kritis,masih konkret
Sumber : Klara innata Arishanti
terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan.
Alasan timbul :
• ada kejadian menarik
• individu mendapat ancaman
• kebutuhan tidak terpenuhi
2. Massa Kongkrit adalah massa yang mempunyai ciri-ciri:
Ciri-ciri:
• adanya kesatuan mind dan sikap
• adanya ikatan batin dan persamaan norma
• ada struktur yang jelas
• bersifat dinamis dan emosional, sifat massa jelas
Antara masssa abstrak dan massa kongkrit kadang-kadang mempunyai
hubungan, dalam arti bahwa masa abstrak dapat berkembang atau berubah
menjadi massa yang kongkrit dan sebaliknya masa kongkrit dapat berubah
menjadi massa abstrak. Tetapi ada kalanya masa abstrak bubar tanpa adanya
bekas.
Massa abstrak merupakan ego pribadi tercermin dalam diri pemimpin
Massa konkret merupakan ego massa kepentingan masih kritis,masih konkret
Sumber : Klara innata Arishanti
Definisi psikologi massa
a. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia
b. Massa adalah kumpulan orang banyak dalam tempat dan waktu yang sama serta biasanya mempunyai tujuan yang sama pula. Contoh: Massa yang melakukan demonstrasi.
c. Psikologi massa adalah studi mengenai tingkah laku banyak orang
atau kumpulan manusia mengenai kelompok-kelompok yang
terorganisir dengan longgar sekali (Kamus Lengkap Psikologi).
d. Psikologi massa adalah psikologi yang khusus mempelajari perilaku
manusia dalam loosely organized group (Chaplin, 1972).
Sumber : Klara innata Arishanti
b. Massa adalah kumpulan orang banyak dalam tempat dan waktu yang sama serta biasanya mempunyai tujuan yang sama pula. Contoh: Massa yang melakukan demonstrasi.
c. Psikologi massa adalah studi mengenai tingkah laku banyak orang
atau kumpulan manusia mengenai kelompok-kelompok yang
terorganisir dengan longgar sekali (Kamus Lengkap Psikologi).
d. Psikologi massa adalah psikologi yang khusus mempelajari perilaku
manusia dalam loosely organized group (Chaplin, 1972).
Sumber : Klara innata Arishanti
Rabu, 13 Oktober 2010
Jenis jenis kelompok
Jenis-jenis Kelompok
1. Dyad → kelompok terdiri dari 2 orang (kelompok masyarakat yang memiliki satu atau dua persamaan dalam kelompok tersebut).
Contoh : Kelompok usia 15 dan memiliki pekerjaan sebagai pelajar. Mereka akan menjadi sebuah kelompok masyarakat dengan kesamaan tersebut.
2. Kelompok kecil → kelompok primer dimana terjadi face to face, saling
tergantung, ada identitas kelompok yang sangat kuat.
Contoh : Kelurga, Dalam keluarga setiap anggota keluarga mengenal siapa bapak, ibu, dan anak.
3. Organisasi → sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama dan
struktur yang sangat jelas. tata cara untuk memobilisasikan dan mengkoordinasikan usaha- usaha, yang mencapai tujuan berdasarkan bagian- bagian organisasi yang bersifat spesialisasi.
Contoh : Organisasi kepemudaan di suatu daerah. Organisasi tersebut memiliki paraturan yang sangat jelas dan sengaja diciptakan untuk menumbuhkan rasa kesatuan setiap pemuda yang ada di daerah tersebut. Apabila seseorang melanggar peraturan yang ada, maka bukan sesuatu yang tidak mungkin apabila orang tersebut akan mendapatkan sanksi yang telah disepakati bersama.
4. Massa → sifat temporer, mempunyai tujuan yang sama, tidak berstruktur. sekumpulan banyak orang (ratusan/ribuan) yang
berkumpul dalam suatu kegiatan yang bersifat sementara.
Contoh : kelompok massa yang melakukan gerak jalan di kawasan MONAS.
Sumber : rindapermatasarilspr.blogspot.com
Handout psikologi kelompok
1. Dyad → kelompok terdiri dari 2 orang (kelompok masyarakat yang memiliki satu atau dua persamaan dalam kelompok tersebut).
Contoh : Kelompok usia 15 dan memiliki pekerjaan sebagai pelajar. Mereka akan menjadi sebuah kelompok masyarakat dengan kesamaan tersebut.
2. Kelompok kecil → kelompok primer dimana terjadi face to face, saling
tergantung, ada identitas kelompok yang sangat kuat.
Contoh : Kelurga, Dalam keluarga setiap anggota keluarga mengenal siapa bapak, ibu, dan anak.
3. Organisasi → sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama dan
struktur yang sangat jelas. tata cara untuk memobilisasikan dan mengkoordinasikan usaha- usaha, yang mencapai tujuan berdasarkan bagian- bagian organisasi yang bersifat spesialisasi.
Contoh : Organisasi kepemudaan di suatu daerah. Organisasi tersebut memiliki paraturan yang sangat jelas dan sengaja diciptakan untuk menumbuhkan rasa kesatuan setiap pemuda yang ada di daerah tersebut. Apabila seseorang melanggar peraturan yang ada, maka bukan sesuatu yang tidak mungkin apabila orang tersebut akan mendapatkan sanksi yang telah disepakati bersama.
4. Massa → sifat temporer, mempunyai tujuan yang sama, tidak berstruktur. sekumpulan banyak orang (ratusan/ribuan) yang
berkumpul dalam suatu kegiatan yang bersifat sementara.
Contoh : kelompok massa yang melakukan gerak jalan di kawasan MONAS.
Sumber : rindapermatasarilspr.blogspot.com
Handout psikologi kelompok
Mengapa orang masuk kelompok ?
Mengapa seseorang masuk dalam kelompok?
􀂙 Menurut Forsyth :
1. Pemuasan kebutuhan-kebutuhan psikologis (mis: rasa aman, cinta)
2. Meningkatkan ketahanan yang adaptif
3. Kebutuhan akan informasi
􀂙 Menurut Shaw :
1. Ketertarikan interpersonal
2. Aktivitas kelompok
3. Tujuan Kelompok
4. Keanggotaan kelompok
5. Efek instrumental dari keanggotaan kelompok (kemudahan-kemudahan
yang didapat dalam sebuah kelompok)
􀂙 Menurut Robbins (1998) :
1. Keamanan
2. Status
3. Penghargaan diri
4. Pertalian
5. Kekuasaan
6. Pencapaian tujuan
Ketertarikan interpersonal :
Ketertarikan interpersonal mengacu pada perasaan-perasaan positif terhadap orang lain. Ahli-ahli psikologi menggunakan istilah ini untuk mencakup berbagai pengalaman, termasuk rasa menyukai, pertemanan, kekaguman, ketertarikan seksual, dan cinta (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008).
Matsumoto (2008) juga menulis bahwa beberapa penelitian menunjukkan bahwa kedekatan berpengaruh terhadap ketertarikan. Selain kedekatan tempat tinggal, daya tarik fisik juga cukup berpengaruh dalam hubungan interpersonal.
Aktivitas kelompok:
Aktivitas kelompok menunjukkan adanya kebutuhan untuk aktif bekerja atau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu (Haditono dkk., 1983).
Tujuan kelompok :
arah bagi berjalannya kelompok dalam melakukan aktifitas atau kegiatan yang akan dilakukan, dan ini menjadi begitu penting dalam membangun kelompok. pembagian tugas serta struktur tugas-tugas tertentu dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan yang sama itu. Di sisi lain, terbentuk pula norma-norma yang kkhas Dalam interaksi kelompok kearah tujuannya sehinggga mulai terbentuk kelompok sosial dengan cirri-ciri yang khas.
Keanggotaan kelompok
Kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok di ciptakan oleh anggota masyarakat, kelompok juga dapat mempengaruhi para anggotanya dan juga kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu.
Efek instrumental dalam keanggotaan kelompok
Efek instrumental dalam keanggotaan kelompok adalah efek dari keanggotaan yang tidak dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh anggota kelompok, dan juga tidak dapat langsung diamati oleh kelompok.
Sumber : www.digilib.ui.ac.id
uin-suka.info/ejurnal/index
www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp
ichwanmuis.com
Handout psikologi kelompok
􀂙 Menurut Forsyth :
1. Pemuasan kebutuhan-kebutuhan psikologis (mis: rasa aman, cinta)
2. Meningkatkan ketahanan yang adaptif
3. Kebutuhan akan informasi
􀂙 Menurut Shaw :
1. Ketertarikan interpersonal
2. Aktivitas kelompok
3. Tujuan Kelompok
4. Keanggotaan kelompok
5. Efek instrumental dari keanggotaan kelompok (kemudahan-kemudahan
yang didapat dalam sebuah kelompok)
􀂙 Menurut Robbins (1998) :
1. Keamanan
2. Status
3. Penghargaan diri
4. Pertalian
5. Kekuasaan
6. Pencapaian tujuan
Ketertarikan interpersonal :
Ketertarikan interpersonal mengacu pada perasaan-perasaan positif terhadap orang lain. Ahli-ahli psikologi menggunakan istilah ini untuk mencakup berbagai pengalaman, termasuk rasa menyukai, pertemanan, kekaguman, ketertarikan seksual, dan cinta (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008).
Matsumoto (2008) juga menulis bahwa beberapa penelitian menunjukkan bahwa kedekatan berpengaruh terhadap ketertarikan. Selain kedekatan tempat tinggal, daya tarik fisik juga cukup berpengaruh dalam hubungan interpersonal.
Aktivitas kelompok:
Aktivitas kelompok menunjukkan adanya kebutuhan untuk aktif bekerja atau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu (Haditono dkk., 1983).
Tujuan kelompok :
arah bagi berjalannya kelompok dalam melakukan aktifitas atau kegiatan yang akan dilakukan, dan ini menjadi begitu penting dalam membangun kelompok. pembagian tugas serta struktur tugas-tugas tertentu dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan yang sama itu. Di sisi lain, terbentuk pula norma-norma yang kkhas Dalam interaksi kelompok kearah tujuannya sehinggga mulai terbentuk kelompok sosial dengan cirri-ciri yang khas.
Keanggotaan kelompok
Kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok di ciptakan oleh anggota masyarakat, kelompok juga dapat mempengaruhi para anggotanya dan juga kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu.
Efek instrumental dalam keanggotaan kelompok
Efek instrumental dalam keanggotaan kelompok adalah efek dari keanggotaan yang tidak dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh anggota kelompok, dan juga tidak dapat langsung diamati oleh kelompok.
Sumber : www.digilib.ui.ac.id
uin-suka.info/ejurnal/index
www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp
ichwanmuis.com
Handout psikologi kelompok
Kamis, 07 Oktober 2010
kelompok tidak efektif
Dalam sebuah kelompok yang kurang efektif dapat kita saksikan adanya perilaku anggota yang berorientasi pada dirinya sendiri, yaitu antara lain :
1.Menentang : mengeritik, menyalahkan orang lain, menunjukkan sikap menentang kelompok atau perorangan, dan merendahkan orang lain.
2.Menghalangi, antara lain menghalangi kemajuan kelompok dalam mencapai sasarannya dengan membelok-belokkan pembicaraan ke arah lain, mengutarakan pendapat pribadi yang tidak ada hubungannya dengan topik yang sedang dibicarakan, bicara terlalu banyak yang menimbulkan kesan ingin mendapat pujian.
3.Mendominasi, antara lain memborong pembicaraan dalam kelompok dengan menekankan pendapatnya sendiri, tidak menghargai pendapat orang lain dalam kelompok, tidak memperhatikan perasaan orang lain, sehingga terkesan ingin menonjolkan diri serta menjadikan kelompok sebagai alat untuk menguji pendapatnya saja.
4.Menyaingi, antara lain selalu berusaha mengajukan pendapat lebih dulu dari orang lain, bersaing untuk mengemukakan ide atau pendapat yang paling bagus, mencari muka pada pimpinan.
5.Mencari simpati, antara lain mencoba mempengaruhi anggota lain agar menjadi tertarik pada suatu persoalan tertentu atau tertarik pada kegagalan kelompok, menciptakan situasi untuk mendapatkan dukungan dari anggota lain.
6.Menyokong pendapat tertentu, antara lain mengajukan atau mendukung pendapat tertentu yang berkaitan dengan kepentingan atau falsafah hidupnya.
7.Mengganggu proses, antara lain sering melucu, menampilkan mimik tertentu serta menginterupsi pembicaraan dan pekerjaan kelompok dengan pemikiran yang kurang relevan.
8.Mencari nama, yaitu coba untuk mengarahkan semua perhatian anggota kelompok padanya, antara lain dengan bicara keras, mengemukakan pendapat yang ekstrem dan berperilaku aneh-aneh.
9.Berbuat acuh tak acuh, antara lain : berperilaku pasif, bersikap masa bodoh, tak peduli terhadap situasi kelompok, melamun, berbisik-bisik dengan orang lain, lari dari topik pembicaraan yang sedang dibahas. (Sumber : Pusdiklat Depnaker, 1989)
Adanya perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini tidak selamanya jelek, kadang-kadang ada yang bermanfaat, antara lain :
1.untuk menguji agar keputusan kelompok betul-betul melalui suatu proses yang kompleks;
2.dalam proses dinamika kelompok, perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini justru menjadi bahan pembelajaran yang baik bagi anggota kelompok. Tentu saja proses ini harus didahului dengan terciptanya iklim keterbukaan dalam kelompok.
3.Dengan terciptanya iklim keterbukaan dalam kelompok dan pemberian umpan-balik yang benar dari seorang anggota kelompok kepada anggota lain, diharapkan perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini akan berkurang dan akan berubah menjadi perilaku yang berorientasi kepada tugas dan kepada pemeliharaan kelompok.
sumber : kartino.blog.ugm.ac.id
1.Menentang : mengeritik, menyalahkan orang lain, menunjukkan sikap menentang kelompok atau perorangan, dan merendahkan orang lain.
2.Menghalangi, antara lain menghalangi kemajuan kelompok dalam mencapai sasarannya dengan membelok-belokkan pembicaraan ke arah lain, mengutarakan pendapat pribadi yang tidak ada hubungannya dengan topik yang sedang dibicarakan, bicara terlalu banyak yang menimbulkan kesan ingin mendapat pujian.
3.Mendominasi, antara lain memborong pembicaraan dalam kelompok dengan menekankan pendapatnya sendiri, tidak menghargai pendapat orang lain dalam kelompok, tidak memperhatikan perasaan orang lain, sehingga terkesan ingin menonjolkan diri serta menjadikan kelompok sebagai alat untuk menguji pendapatnya saja.
4.Menyaingi, antara lain selalu berusaha mengajukan pendapat lebih dulu dari orang lain, bersaing untuk mengemukakan ide atau pendapat yang paling bagus, mencari muka pada pimpinan.
5.Mencari simpati, antara lain mencoba mempengaruhi anggota lain agar menjadi tertarik pada suatu persoalan tertentu atau tertarik pada kegagalan kelompok, menciptakan situasi untuk mendapatkan dukungan dari anggota lain.
6.Menyokong pendapat tertentu, antara lain mengajukan atau mendukung pendapat tertentu yang berkaitan dengan kepentingan atau falsafah hidupnya.
7.Mengganggu proses, antara lain sering melucu, menampilkan mimik tertentu serta menginterupsi pembicaraan dan pekerjaan kelompok dengan pemikiran yang kurang relevan.
8.Mencari nama, yaitu coba untuk mengarahkan semua perhatian anggota kelompok padanya, antara lain dengan bicara keras, mengemukakan pendapat yang ekstrem dan berperilaku aneh-aneh.
9.Berbuat acuh tak acuh, antara lain : berperilaku pasif, bersikap masa bodoh, tak peduli terhadap situasi kelompok, melamun, berbisik-bisik dengan orang lain, lari dari topik pembicaraan yang sedang dibahas. (Sumber : Pusdiklat Depnaker, 1989)
Adanya perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini tidak selamanya jelek, kadang-kadang ada yang bermanfaat, antara lain :
1.untuk menguji agar keputusan kelompok betul-betul melalui suatu proses yang kompleks;
2.dalam proses dinamika kelompok, perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini justru menjadi bahan pembelajaran yang baik bagi anggota kelompok. Tentu saja proses ini harus didahului dengan terciptanya iklim keterbukaan dalam kelompok.
3.Dengan terciptanya iklim keterbukaan dalam kelompok dan pemberian umpan-balik yang benar dari seorang anggota kelompok kepada anggota lain, diharapkan perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini akan berkurang dan akan berubah menjadi perilaku yang berorientasi kepada tugas dan kepada pemeliharaan kelompok.
sumber : kartino.blog.ugm.ac.id
Kelompok efektif
Efektivitas Kelompok
Untuk mencapai efektivitas dan produktivitas sebuah kelompok atau tim kerja diperlukan suasana yang solid dan kondusif untuk meningkatkan terjadinya proses kerjasama diantara sesama anggotanya dalam mencapai tujuan kelompok.Soliditas, efektivitas dan produktivitas kelompok dipengaruhi oleh adanya rasa percaya, keterbukaan, perwujudan diri dan saling ketergantungan diantara individu-individu anggota kelompok, namun keempat faktor tersebut merupakan sesuatu yang abstrak dan sukar diobservasi. Pada uraian dibawah ini efektivitas kelompok akan dilihat secara nyata dalam bentuk perilaku anggota selama proses interaksi terjadi dalam kelompok.
Kelompok yang efektif
Dalam sebuah kelompok yang efektif dapat kita saksikan adanya dua kategori perilaku anggota kelompok, yaitu :
1.perilaku yang berorientasi pada tugas;
2.perilaku yang berorientasi pada pemeliharaan hubungan anggota kelompok.
3.Perilaku yang berorientasi pada tugas, selalu berupaya mengingatkan dan mengajak anggota kelompok untuk mewujudkan pencapaian tujuan organisasi. Kenyataan ini dapat dilihat dari aktivitas anggota kelompok dalam melakukan kerja kelompok,
4.Mengambil inisiatif, antara lain mengajukan pendapat baru, merumuskan dan memberi pengertian baru terhadap masalah, sehingga menjadi lebih jelas, menunjukkan kelemahan masalah, mengusulkan pemecahan masalah.
5.Mencari informasi, antara lain meminta penjelasan terhadap saran yang diajukan, meminta tambahan informasi atau fakta/data.
6.Mengumpulkan pendapat, antara lain menanyakan ekspresi perasaan anggota, usul atau ide para anggotanya terhadap suatu masalah.
7.Memberi informasi, antara lain menyajikan fakta dan memberikan kesimpulan dengan ilustrasi pengalamannya sehubungan dengan masalah yang dihadapi kelompok.
8.Mencari pendapat, antara lain menanyakan pendapat atau keyakinan anggota tentang suatu saran, terutama yang terkait dnegan nilai-nilai, bukan fakta.
9.Mengolah informasi, yaitu menjelaskan, memberi contoh, menafsirkan dan menggambarkan akibat yang bisa terjadi apabila saran dilaksanakan.
10.Mengkoordinasikan, antara lain menyatukan berbagai pendapat atau saran, mengintegrasikan aktivitas anggota-anggota atau sub-subkelompok.
11.Menyimpulkan, antara lain menyimpulkan pendapat atau saran yang saling berhubungan, dan mengulang saran tersebut setelah kelompok selesai mendiskusikannya.
12.Perilaku yang berorientasi pada pemeliharaan kelompok, selalu berupaya mengingatkan dan mengajak anggota kelompok untuk mempertahankan keutuhan kelompok.
Kenyataan ini dapat dilihat dari aktivitas anggota kelompok dalam melaksanakan kerja kelompok, antara lain :
1.Mendorong pemeliharaan hubungan, seperti mudah berteman, ramah, cepat tanggap, menghargai, menyetujui dan menerima pendapat orang lain.
2.Mendorong keterlibatan anggota, dengan berusaha agar semua anggota terlibat dalam pembicaraan, misalnya menyatakan : Bapak/Ibu A belum kita dengar pendapatnya, atau meminta setiap anggota membatasi pembicaraannya, agar semua anggota mendapat kesempatan untuk mengemukakan pikirannya.
3.Membuat norma kerja, yaitu mengusulkan adanya kesepakatan tentang norma kerja kelompok untuk kelancaran dan ketertiban pertemuan/diskusi, menilai dan mengambil keputusan serta untuk memperingatkan kelompok bila norma tersebut dilanggar.
4.Mengikuti kesepakatan, yaitu menyatakan menerima pendapat si A, sependapat dengan keputusan kelompok, dan menjadi seorang pendengar yang baik selama proses diskusi berlangsung.
5.Mengekspresikan pendapat kelompok, yaitu berusaha menyimpulkan perasaan kelompok dan menguraikan reaksi kelompok terhadap suatu pendapat atau keputusan.
sumber : kartino.blog.ugm.ac.id
Untuk mencapai efektivitas dan produktivitas sebuah kelompok atau tim kerja diperlukan suasana yang solid dan kondusif untuk meningkatkan terjadinya proses kerjasama diantara sesama anggotanya dalam mencapai tujuan kelompok.Soliditas, efektivitas dan produktivitas kelompok dipengaruhi oleh adanya rasa percaya, keterbukaan, perwujudan diri dan saling ketergantungan diantara individu-individu anggota kelompok, namun keempat faktor tersebut merupakan sesuatu yang abstrak dan sukar diobservasi. Pada uraian dibawah ini efektivitas kelompok akan dilihat secara nyata dalam bentuk perilaku anggota selama proses interaksi terjadi dalam kelompok.
Kelompok yang efektif
Dalam sebuah kelompok yang efektif dapat kita saksikan adanya dua kategori perilaku anggota kelompok, yaitu :
1.perilaku yang berorientasi pada tugas;
2.perilaku yang berorientasi pada pemeliharaan hubungan anggota kelompok.
3.Perilaku yang berorientasi pada tugas, selalu berupaya mengingatkan dan mengajak anggota kelompok untuk mewujudkan pencapaian tujuan organisasi. Kenyataan ini dapat dilihat dari aktivitas anggota kelompok dalam melakukan kerja kelompok,
4.Mengambil inisiatif, antara lain mengajukan pendapat baru, merumuskan dan memberi pengertian baru terhadap masalah, sehingga menjadi lebih jelas, menunjukkan kelemahan masalah, mengusulkan pemecahan masalah.
5.Mencari informasi, antara lain meminta penjelasan terhadap saran yang diajukan, meminta tambahan informasi atau fakta/data.
6.Mengumpulkan pendapat, antara lain menanyakan ekspresi perasaan anggota, usul atau ide para anggotanya terhadap suatu masalah.
7.Memberi informasi, antara lain menyajikan fakta dan memberikan kesimpulan dengan ilustrasi pengalamannya sehubungan dengan masalah yang dihadapi kelompok.
8.Mencari pendapat, antara lain menanyakan pendapat atau keyakinan anggota tentang suatu saran, terutama yang terkait dnegan nilai-nilai, bukan fakta.
9.Mengolah informasi, yaitu menjelaskan, memberi contoh, menafsirkan dan menggambarkan akibat yang bisa terjadi apabila saran dilaksanakan.
10.Mengkoordinasikan, antara lain menyatukan berbagai pendapat atau saran, mengintegrasikan aktivitas anggota-anggota atau sub-subkelompok.
11.Menyimpulkan, antara lain menyimpulkan pendapat atau saran yang saling berhubungan, dan mengulang saran tersebut setelah kelompok selesai mendiskusikannya.
12.Perilaku yang berorientasi pada pemeliharaan kelompok, selalu berupaya mengingatkan dan mengajak anggota kelompok untuk mempertahankan keutuhan kelompok.
Kenyataan ini dapat dilihat dari aktivitas anggota kelompok dalam melaksanakan kerja kelompok, antara lain :
1.Mendorong pemeliharaan hubungan, seperti mudah berteman, ramah, cepat tanggap, menghargai, menyetujui dan menerima pendapat orang lain.
2.Mendorong keterlibatan anggota, dengan berusaha agar semua anggota terlibat dalam pembicaraan, misalnya menyatakan : Bapak/Ibu A belum kita dengar pendapatnya, atau meminta setiap anggota membatasi pembicaraannya, agar semua anggota mendapat kesempatan untuk mengemukakan pikirannya.
3.Membuat norma kerja, yaitu mengusulkan adanya kesepakatan tentang norma kerja kelompok untuk kelancaran dan ketertiban pertemuan/diskusi, menilai dan mengambil keputusan serta untuk memperingatkan kelompok bila norma tersebut dilanggar.
4.Mengikuti kesepakatan, yaitu menyatakan menerima pendapat si A, sependapat dengan keputusan kelompok, dan menjadi seorang pendengar yang baik selama proses diskusi berlangsung.
5.Mengekspresikan pendapat kelompok, yaitu berusaha menyimpulkan perasaan kelompok dan menguraikan reaksi kelompok terhadap suatu pendapat atau keputusan.
sumber : kartino.blog.ugm.ac.id
Karakteristik tipe Kelompok
Ronald B. Adler dan Goerge Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication membagi kelompok dalam tiga tipe, yaitu kelompok belajar (learning group), kelompok pertumbuhan (growth group), dan kelompok pemecahan masalah (problem-solving group). Masing-masing tipe kelompok memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda.
1.Kelompok Belajar (learning group)
Ketika kita mendengar kata ‘belajar’ atau learning, perhatian dan pikiran kita hampir selalu tertuju pada suatu lembaga pendidikan ataupun sekolah. Meskipun institusi pendidikan tersebut termasuk dalam klasifikasi learning group, namun ia bukan satu-satunya. Kelompok yang memberi keterampilan berenang ataupun kelompok yang mengkhususkan kegiatannya pada peningkatan kemampuan dalam memberi pertolongan darurat misalnya, dapat digolongkan ke dalam kelompok belajar tersebut. Jadi, apa pun bentuknya, tujuan dari learning group ini adalah meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para anggotanya.
Satu ciri yang menonjol dari learning group ini adalah adanya pertukaran informasi dua arah, artinya setiap anggota dalam kelompok belajar adalah kontributor atau penyumbang dan penerima pengetahuan.
2.Kelompok Petumbuhan (growth group)
Jika learning group para anggotanya terlibat dalam persoalan-persoalan aksternal sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka kelompok pertumbuhan lebih memusatkan perhatiannya kepada permasalah pribadi yang dihadapi para anggotanya. Wujud nyata dari growth group ini adalah kelompok bimbingan perkawinan, kelompok bimbingan psikologi, kelompok terapi sebagaimana yang sudah diuraikan pada kegiatan belajar 1, serta kelompok yang memusatkan aktivitasnya kepada penumbuhan keyakinan diri, yang biasa disebut dengan consciousness-raising group.
Karekateristik yang terlihat dalam tipe kelompok ini adalah growth group tidak mempunyai tujuan kolektif yang nyata, dalam arti bahwa seluruh tujuan kelompok diarahkan kepada usaha untuk membentu para anggotanya mengidentifikasi dan mengarahkan mereka untuk peduli dengan persoalan pribadi yang mereka hadapi.
3.Kelompok Pemecahan Masalah (problem-solving group)
Orang -orang yang terlibat dalam kelompok pemecahan masalah, bekerja bersama-sama untuk mengatasi persoalan bersama yang mereka hadapi. Dalam sebuah keluarga misalnya, bagaimana seluruh anggota keluarga memecahkan persoalan tentang cara pembagian kerja yang memungkinkan mereka terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, seperti tugas apa yang harus dilakukan seorang suami, apa yang menjadi tanggung jawab istri, dan pekerjaan-pekerjaan apa yang dibebankan kepada anak-anaknya. Atau dalam contoh lain, bagaimana cara warga yang bergabung dalam satu rukun tetangga (RT) berusaha mengorganisasikan diri mereka sendiri guna mencegah tindakan pencurian melalui kegiatan sistem keamanan llingkungan atau lebih dikenal dengan siskamling.
Problem solving gorup dalam opersionalsasinya, melibatkan dua aktivitas penting.
Pengumpulan informasi (gathering information); bagaimana suatu kelompok sebelum membuat suatu keputusan, berusaha mengumpulkan informasi yang penting dan berguna untuk landasan pengambilan keputusan tersebut.
Pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri yang berdasar pada hasil pengumpulan informasi.
sumber : http://kuliah.dagdigdug.com
1.Kelompok Belajar (learning group)
Ketika kita mendengar kata ‘belajar’ atau learning, perhatian dan pikiran kita hampir selalu tertuju pada suatu lembaga pendidikan ataupun sekolah. Meskipun institusi pendidikan tersebut termasuk dalam klasifikasi learning group, namun ia bukan satu-satunya. Kelompok yang memberi keterampilan berenang ataupun kelompok yang mengkhususkan kegiatannya pada peningkatan kemampuan dalam memberi pertolongan darurat misalnya, dapat digolongkan ke dalam kelompok belajar tersebut. Jadi, apa pun bentuknya, tujuan dari learning group ini adalah meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para anggotanya.
Satu ciri yang menonjol dari learning group ini adalah adanya pertukaran informasi dua arah, artinya setiap anggota dalam kelompok belajar adalah kontributor atau penyumbang dan penerima pengetahuan.
2.Kelompok Petumbuhan (growth group)
Jika learning group para anggotanya terlibat dalam persoalan-persoalan aksternal sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka kelompok pertumbuhan lebih memusatkan perhatiannya kepada permasalah pribadi yang dihadapi para anggotanya. Wujud nyata dari growth group ini adalah kelompok bimbingan perkawinan, kelompok bimbingan psikologi, kelompok terapi sebagaimana yang sudah diuraikan pada kegiatan belajar 1, serta kelompok yang memusatkan aktivitasnya kepada penumbuhan keyakinan diri, yang biasa disebut dengan consciousness-raising group.
Karekateristik yang terlihat dalam tipe kelompok ini adalah growth group tidak mempunyai tujuan kolektif yang nyata, dalam arti bahwa seluruh tujuan kelompok diarahkan kepada usaha untuk membentu para anggotanya mengidentifikasi dan mengarahkan mereka untuk peduli dengan persoalan pribadi yang mereka hadapi.
3.Kelompok Pemecahan Masalah (problem-solving group)
Orang -orang yang terlibat dalam kelompok pemecahan masalah, bekerja bersama-sama untuk mengatasi persoalan bersama yang mereka hadapi. Dalam sebuah keluarga misalnya, bagaimana seluruh anggota keluarga memecahkan persoalan tentang cara pembagian kerja yang memungkinkan mereka terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, seperti tugas apa yang harus dilakukan seorang suami, apa yang menjadi tanggung jawab istri, dan pekerjaan-pekerjaan apa yang dibebankan kepada anak-anaknya. Atau dalam contoh lain, bagaimana cara warga yang bergabung dalam satu rukun tetangga (RT) berusaha mengorganisasikan diri mereka sendiri guna mencegah tindakan pencurian melalui kegiatan sistem keamanan llingkungan atau lebih dikenal dengan siskamling.
Problem solving gorup dalam opersionalsasinya, melibatkan dua aktivitas penting.
Pengumpulan informasi (gathering information); bagaimana suatu kelompok sebelum membuat suatu keputusan, berusaha mengumpulkan informasi yang penting dan berguna untuk landasan pengambilan keputusan tersebut.
Pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri yang berdasar pada hasil pengumpulan informasi.
sumber : http://kuliah.dagdigdug.com
Pendekatan teoritis kelompok
1. Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok
Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok dikemukakan oleh Bion pada tahun 1948 1951. Sebelumnya Bion melakukan pengamatan dan partisipasinya dalam kelompok-kelompok terapi Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok berawal dari teori neo-analisis. Teori neo-analisis lahir dari aliran-aliran neo-analisis yang bersumber pada teori Freud. Ada pula tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori tersebut, seperti Sullivan, Adler, Fromm, dan Hornay.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori psikodinamika dari fungsi kelompok, yaitu kelompok bukanlah sekedar kumpulan individu, melainkan merupakan suatu satuan dengan ciri dinamika dan emosi tersendiri. Kelompok-kelompok ini memiliki ciri, yaitu berfungsi pada taraf tidak sadar yang berdasarkan atas suatu kecemasan dan motivasi yang ada dalam diri manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Sigmund Freud, dalam teori ini ada tiga kepribadian dalam suatu kelompok, yang terdiri atas :
a. Kebutuhan-kebutuhan dan motif-motif ,
b. Tujuan dan mekanisme (fungsi ego), dan
c. Keterbatasan-keterbatasan (fungsi super-ego).
Kelompok kerja juga dibicarakan dalam teori ini. Kelompok kerja merupakan suatu kelompok yang bertujuan untuk melaksanakan tugas. Ada sejumlah peraturan dan prosedur yang harus dilakukan. Bion cenderung menamakan kelompok kerja ini sebagai kelompok yang bertaraf tinggi (sophisticated).
Bion mengemukakan ada tiga asumsi dasar mengenai mekanisme kerja kelompok yang saling berkaitan, antara lain :
- Asumsi ketergantungan,
- Asumsi pasangan, dan
- Asumsi melawan-lari
2. Teori Sintalitas Kelompok (Group Syntality Theory)
Teori Sintalitas Kelompok merupakan perwujudan dari proses komunikasi dari suatu kelompok. Teori ini dikembangkan oleh Cattell pada tahun 1948. Cattell berpendapat bahwa untuk dapat membuat perkiraan-perkiraan ilmiah yang tepat, segala sesuatu harus dapat diuraikan, diukur, dan diklasifikasikan dengan tepat dan cermat. Dalam teori sintalitas ini, Cattell menjelaskan bahwa dalam suatu kelompok haruslah memiliki kepribadian yang dapat dipelajari. Dengan alasan ini, Cattell dengan teorinya dikatakan sebagai pengembang Psikologi yang dinamakan Psikologi Kepribadian Kelompok.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori ini merupakan asal kata dari sintalitas (syntality) yang digunakan oleh Cattell untuk menunjukkan “kepribadian kelompok” yang mencankup kebersamaan, dinamika, temperamen, dan kemampuan kelompok. Dasar-dasar pendapat yang dikemukakan oleh Cattell dipengaruhi oleh pandangan McDougall (1920) tentang kelompok, yaitu :
- Perilaku dan struktur yang khas dari suatu kelompok akan tetap ada walaupun anggota-anggotanya berganti.
- Pengalaman-pengalaman kelompok direkam dalam ingatan.
- Kelompok menunjukkan adanya dorongan-dorongan.
- Kelompok mampu berespons secara keseluruhan terhadap suatu rangsang yang tertuju pada salah satu bagiannya.
- Kelompok menunjukkan emosi yang bervariasi.
- Kelompok menunjukkan adanya pertimbangan-pertimbangan kolektif (bersama).
Cattell mengemukakan setidaknya membutuhkan tiga panel dalam suatu kelompok, yang terdiri atas : sifat-sifat sintalitas yaitu pengaruh dari adanya kelompok sebagai keseluruhan, baik terhadap kelompok lain maupun terhadap lingkungan; sifat-sifat struktur kelompok yaitu hubungan yang tercipta antara anggota kelompok, perilaku-perilaku di dalam kelompok, dan pola organisasi kelompok; dan sifat-sifat populasi yaitu sifat rata-rata dari anggota-anggota kelompok. Hubungan dari ketiga panel ini adalah saling ketergantungan. Selain dari tiga panel yang telah diuraikan tersebut, Cattell juga menyatakan adanya dua aspek penting pada kelompok, yaitu : eksistensi kelompok tergantung pada kebutuhan individu anggotanya dan kelompok-kelompok biasanya saling tumpang tindih.
3. Teori Prestasi Kelompok (Theoryof Group Achievement)
Teori Prestasi kelompok dikemukakan oleh Stogdill pada tahun 1959. Stogdill menganggap bahwa teori-teori tentang kelompok pada umumnya didasarkan pada konsep tentang interaksi yang memiliki kelemahan teoritis tertentu. Maka dari itu, Stogdill mengajukan teori prestasi kelompok. Teori yang dikemukakan oleh Stogdill ini, menyertakan masukan (input), variabel media, dan prestasi (output) dari suatu kelompok. Teori ini merupakan hasil pengembangan dari teori-teori sebelumnya yang tergolong dalam tiga orientasi yang berbeda, seperti : orientasi penguat (teori-teori belajar), orientasi lapangan (teori-teori tentang interaksi), dan orientasi kognitif (teori-teori tentang harapan).
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori ini adalah proses terjadinya dalam kelompok dimana dimuiai dari masukan ke keluaran melalui variabel-variabel media. Dalam teori ini akan terdapat umpan balik (feed-back). Berikut ini adalah penjabaran teori prestasi yang terbagi atas beberapa faktor yang mempengaruhi suatu kelompok, yaitu :
a.Masukan dari anggota Masukan dari anggota merupakan sumber input.
Menurut Stogdill, kelompok adalah suatu sistem interaksi yang terbuka. Struktur dan kelangsungan sistem sangat bergantung pada tindakan-tindakan anggota dan hubungan antara anggota. Ada tiga elemen penting yang termasuk dalam masukan anggota, yaitu : interaksi sosial (menyatakan suatu hubungan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, interaksi ini terdiri atas aksi dan reaksi antara anggota-anggota kelompok yang berinteraksi); hasil perbuatan (bagian dari suatu interaksi yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kerja sama, berencana, menilai, berkomunikasi, membuat kepetusan); dan harapan (kesediaan untuk mendapatkan suatu penguat, fungsi dari harapan ini adalah sebagai dorongan (drive), perkiraan tentang menyenangkan atau tidaknya dasil, dan perkiraan tentang kemungkinan hasil itu akan benar-benar terjadi).
b. Variabel media
Variabel media menjelaskan mengenai beroperasi dan berfungsinya suatu kelompok. Elemen-elemen yang ada di dalamnya, yaitu : struktur formal (struktur formal mencakup fungsi dan status dimana kelompok terdiri atas individu-individu yang masing-masingmembawa harapan dan perbuatannya sendiri) dan struktur peran (struktur peran mencakup tanggung jawab dan otoritas dimana individu yang menduduki posisi tertentu hampir tidak berpengaruh pada status dan fungsi posisi tersebut).
c. Prestasi kelompok
Prestasi kelompok merupakan output atau tujuan dari kelompok. Ada tiga unsur yang menentukan prestasi kelompok, yaitu : produktivitas (derajat perubahan harapan tentang nilai-nilai yang dihasilkan oleh perilaku kelompok), moral (derajat kebebasan dari hambatan-hambatan dalam kerja kelompok menuju tujuannya), dan kesatuan (tingkat kemampuan kelompok untuk mempertahankan struktur dan mekanisme operasinya dalam kondisi yang penuh tekanan (stress).
Kelompok dalam perspektif interaksional dikemukakan Marvin Shaw sebagai dua orang atau lebih yang berinteraksi satu sama lain dengan cara tertentu, di mana masing-masing
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pihak lainnya. Suatu kelompok (kecil) adalah kelompok yang terdiri dari dua puluh orang atau kurang, walaupun dalam beberapa hal kita lebih berkepentingan dengan kelompok yang terdiri dari lima orang atau kurang.
Batasan yang diuraikan Shaw melibatkan tindak komunikasi sebagai karakteristik yang esensial dari kelompok. Masih menurut Shaw, kelompok yang baik adalah kelompok yang dapat bertahan untuk suatu periode waktu yang relative panjang, memiliki tujuan, dan memiliki struktur interaksi.
Pengantar singkat ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada kita, bahwa kelompok merupakan bagian yang sangat penting dari aktivitas suatu masyarakat. Clovis Sheperd menjelaskan, bahwa kelompok merupakan suatu mekanisme mendasar dari sosialisasi dan sumber utama dar i tatanan sosial. Orang mendapatkan nilai dan sikap mereka, sebagian besar dari kelompok di mana mereka berada. Karenanya, kelompok (kecil) memberikan suatu fungsi perantara yang penting antara individu dengan masyarakat luas.
• Teori Perbandingan Sosial (Social Comoarison Theory)
Teori atau pendekatan perbandingan sosial mengemukakan bahwa tindak komunikasi dalam kelompok berlangsung karena adanya kebutuhan-kebutuhan dari individu untuk embendingkan sikap, pendapat dan kemampuannya dengan individu-individu lainnya.
Dalam pandangan teori perbandingan sosial ini, tekanan seseorang untuk berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya akan mengalami peningkatan, jika muncul ketidak setujuan yang berkaitan dngan suatu kejadian atau peristiwa, kalau tingkat kepentingannya peristiwa tersebut meningkat dan apabila hubungan dalam kelompok (group cohesivenes) juga menunjukkan peningkatan. Selain itu, setelah suatu keputusan kelompok dibuat, para anggota kelompok akan saling berkomunikasi untuk mendapatkan informasi yang mendukung atau membuat individu-individu dalam kelompok lebih merasa senang dengan keputusan yang dibuat tersebut.
Sebagai tambahan catatan, teori perbandingan sosial ini diupayakan untuk dapat menjelaskan bagaimana tindak komunikasi dari para anggota kelompok mengalami peningkatan atau penuruanan.
• Teori Kepribadian Kelompok (Group Syntality Theori)
Teori kepribadian merupakan studi mengenai interaksi kelompok pada basis dimensi kelompok dan dinamika kepribadian. Dimensi kelompok merujuk pada cirri-ciri populasi atau karakteristik individu seperti umur, kecendekiawanan (intelligence), sementara cirri-ciri kepribadian atau suatu efek yang memungkinkan kelompok bertindak sebagai satu keseluruhan, merujuk pada peran-peran specific, klik dan posisi status. Dinamika kepribadian diukur oleh apa yang disebut dengan synergy, yaitu tingkat atau derajat energi dari setiap individu yang dibawa dalam kelompok untuk digunakan dalam melaksanakan tujuan-tujuan kelompok. Banyak dari synergy atau energi kelompok harus dicurahkan ke arah pemeliharaan keselarasan dan keterpaduan kelompok.
• Teori Percakapan Kelompok (Group Achievement Theory)
Teori percakapan kelompok ini sangat berkaitan dengan produktivitas kelompok atau upaya-upaya untuk mencapainya melalui pemeriksaaan masukan dari anggota (member inputs), variable-variabel perantara (mediating variables), dan keluaran dari kelompok (group output). Masukan atau input yang berasal dari anggota kelompok dapat diidentifikasikan sebagai perilaku, interkasi dan harapan-harapan (expectation) yang bersifat individual. Sedangkan variable-variabel perantara merujuk pada struktur-struktur formal dan struktur peran dari kelompok seperti status, norma, dan tujuan-tujuan kelompok.
• Teori Pertukaran Sosial (Socual Exchange Theory)
Teori pertukaran sosial ini didasarkan pada pemikiran bahwa seseorang dapat mencapai satu pengertian mengenai sifat kompleks dari kelompok dengan mengkaji hubungan di antara dua orang (dydic relationship). Suatu kelompok dipertimbangkan untuk kumpulan dari hubungan antara dua partisipan tersebut.
Perumusan tersebut mengasumsikan bahwa interaksi menusia melibatkan pertukaran barang dan jasa, dan bahwa biaya (cost) dan imbalan (reward) dipahami dalam situasi yang akan disajikan untuk mendapatkan respon dari individu-individu selama interaksi sosial. Jika imbalan dirasakan tidak cukup atau lebih banyak dari biaya, maka interaksi kelompok akan diakhiri atau individu-individu yang terlibat akan mengubah perilaku mereka untuk melindungi imbalan apa pun yang mereka cari.
Pendekatan pertukaran social ini penting karena berusaha menjelaskan fenomena kelompok dalam lingkup konsep-konsep ekonomi dan perilaku mengenai biaya dan imbalan.
• Teori Sosiometrik (Sociometric Theory)
Sosiometrik merupakan sebuah konsepsi psikologis yang mengacu pada suatu pendekatan metodolohis dan teoritis terhadap kelompok. Asumsi yang dimunculkan adalah bahwa individu-individu dalam kelompok yang merasa tertarik satu sama lain akan lebih banyak melakukan tindak komunikasi, sebaliknya individu-individu yang saling menolak, hanya sedikit atau kurang melaksanakan tindak komunikasi.
Sumber: http://newchoi.blogspot.com
kuliah.dagdigdug.com
Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok dikemukakan oleh Bion pada tahun 1948 1951. Sebelumnya Bion melakukan pengamatan dan partisipasinya dalam kelompok-kelompok terapi Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok berawal dari teori neo-analisis. Teori neo-analisis lahir dari aliran-aliran neo-analisis yang bersumber pada teori Freud. Ada pula tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori tersebut, seperti Sullivan, Adler, Fromm, dan Hornay.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori psikodinamika dari fungsi kelompok, yaitu kelompok bukanlah sekedar kumpulan individu, melainkan merupakan suatu satuan dengan ciri dinamika dan emosi tersendiri. Kelompok-kelompok ini memiliki ciri, yaitu berfungsi pada taraf tidak sadar yang berdasarkan atas suatu kecemasan dan motivasi yang ada dalam diri manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Sigmund Freud, dalam teori ini ada tiga kepribadian dalam suatu kelompok, yang terdiri atas :
a. Kebutuhan-kebutuhan dan motif-motif ,
b. Tujuan dan mekanisme (fungsi ego), dan
c. Keterbatasan-keterbatasan (fungsi super-ego).
Kelompok kerja juga dibicarakan dalam teori ini. Kelompok kerja merupakan suatu kelompok yang bertujuan untuk melaksanakan tugas. Ada sejumlah peraturan dan prosedur yang harus dilakukan. Bion cenderung menamakan kelompok kerja ini sebagai kelompok yang bertaraf tinggi (sophisticated).
Bion mengemukakan ada tiga asumsi dasar mengenai mekanisme kerja kelompok yang saling berkaitan, antara lain :
- Asumsi ketergantungan,
- Asumsi pasangan, dan
- Asumsi melawan-lari
2. Teori Sintalitas Kelompok (Group Syntality Theory)
Teori Sintalitas Kelompok merupakan perwujudan dari proses komunikasi dari suatu kelompok. Teori ini dikembangkan oleh Cattell pada tahun 1948. Cattell berpendapat bahwa untuk dapat membuat perkiraan-perkiraan ilmiah yang tepat, segala sesuatu harus dapat diuraikan, diukur, dan diklasifikasikan dengan tepat dan cermat. Dalam teori sintalitas ini, Cattell menjelaskan bahwa dalam suatu kelompok haruslah memiliki kepribadian yang dapat dipelajari. Dengan alasan ini, Cattell dengan teorinya dikatakan sebagai pengembang Psikologi yang dinamakan Psikologi Kepribadian Kelompok.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori ini merupakan asal kata dari sintalitas (syntality) yang digunakan oleh Cattell untuk menunjukkan “kepribadian kelompok” yang mencankup kebersamaan, dinamika, temperamen, dan kemampuan kelompok. Dasar-dasar pendapat yang dikemukakan oleh Cattell dipengaruhi oleh pandangan McDougall (1920) tentang kelompok, yaitu :
- Perilaku dan struktur yang khas dari suatu kelompok akan tetap ada walaupun anggota-anggotanya berganti.
- Pengalaman-pengalaman kelompok direkam dalam ingatan.
- Kelompok menunjukkan adanya dorongan-dorongan.
- Kelompok mampu berespons secara keseluruhan terhadap suatu rangsang yang tertuju pada salah satu bagiannya.
- Kelompok menunjukkan emosi yang bervariasi.
- Kelompok menunjukkan adanya pertimbangan-pertimbangan kolektif (bersama).
Cattell mengemukakan setidaknya membutuhkan tiga panel dalam suatu kelompok, yang terdiri atas : sifat-sifat sintalitas yaitu pengaruh dari adanya kelompok sebagai keseluruhan, baik terhadap kelompok lain maupun terhadap lingkungan; sifat-sifat struktur kelompok yaitu hubungan yang tercipta antara anggota kelompok, perilaku-perilaku di dalam kelompok, dan pola organisasi kelompok; dan sifat-sifat populasi yaitu sifat rata-rata dari anggota-anggota kelompok. Hubungan dari ketiga panel ini adalah saling ketergantungan. Selain dari tiga panel yang telah diuraikan tersebut, Cattell juga menyatakan adanya dua aspek penting pada kelompok, yaitu : eksistensi kelompok tergantung pada kebutuhan individu anggotanya dan kelompok-kelompok biasanya saling tumpang tindih.
3. Teori Prestasi Kelompok (Theoryof Group Achievement)
Teori Prestasi kelompok dikemukakan oleh Stogdill pada tahun 1959. Stogdill menganggap bahwa teori-teori tentang kelompok pada umumnya didasarkan pada konsep tentang interaksi yang memiliki kelemahan teoritis tertentu. Maka dari itu, Stogdill mengajukan teori prestasi kelompok. Teori yang dikemukakan oleh Stogdill ini, menyertakan masukan (input), variabel media, dan prestasi (output) dari suatu kelompok. Teori ini merupakan hasil pengembangan dari teori-teori sebelumnya yang tergolong dalam tiga orientasi yang berbeda, seperti : orientasi penguat (teori-teori belajar), orientasi lapangan (teori-teori tentang interaksi), dan orientasi kognitif (teori-teori tentang harapan).
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori ini adalah proses terjadinya dalam kelompok dimana dimuiai dari masukan ke keluaran melalui variabel-variabel media. Dalam teori ini akan terdapat umpan balik (feed-back). Berikut ini adalah penjabaran teori prestasi yang terbagi atas beberapa faktor yang mempengaruhi suatu kelompok, yaitu :
a.Masukan dari anggota Masukan dari anggota merupakan sumber input.
Menurut Stogdill, kelompok adalah suatu sistem interaksi yang terbuka. Struktur dan kelangsungan sistem sangat bergantung pada tindakan-tindakan anggota dan hubungan antara anggota. Ada tiga elemen penting yang termasuk dalam masukan anggota, yaitu : interaksi sosial (menyatakan suatu hubungan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, interaksi ini terdiri atas aksi dan reaksi antara anggota-anggota kelompok yang berinteraksi); hasil perbuatan (bagian dari suatu interaksi yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kerja sama, berencana, menilai, berkomunikasi, membuat kepetusan); dan harapan (kesediaan untuk mendapatkan suatu penguat, fungsi dari harapan ini adalah sebagai dorongan (drive), perkiraan tentang menyenangkan atau tidaknya dasil, dan perkiraan tentang kemungkinan hasil itu akan benar-benar terjadi).
b. Variabel media
Variabel media menjelaskan mengenai beroperasi dan berfungsinya suatu kelompok. Elemen-elemen yang ada di dalamnya, yaitu : struktur formal (struktur formal mencakup fungsi dan status dimana kelompok terdiri atas individu-individu yang masing-masingmembawa harapan dan perbuatannya sendiri) dan struktur peran (struktur peran mencakup tanggung jawab dan otoritas dimana individu yang menduduki posisi tertentu hampir tidak berpengaruh pada status dan fungsi posisi tersebut).
c. Prestasi kelompok
Prestasi kelompok merupakan output atau tujuan dari kelompok. Ada tiga unsur yang menentukan prestasi kelompok, yaitu : produktivitas (derajat perubahan harapan tentang nilai-nilai yang dihasilkan oleh perilaku kelompok), moral (derajat kebebasan dari hambatan-hambatan dalam kerja kelompok menuju tujuannya), dan kesatuan (tingkat kemampuan kelompok untuk mempertahankan struktur dan mekanisme operasinya dalam kondisi yang penuh tekanan (stress).
Kelompok dalam perspektif interaksional dikemukakan Marvin Shaw sebagai dua orang atau lebih yang berinteraksi satu sama lain dengan cara tertentu, di mana masing-masing
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pihak lainnya. Suatu kelompok (kecil) adalah kelompok yang terdiri dari dua puluh orang atau kurang, walaupun dalam beberapa hal kita lebih berkepentingan dengan kelompok yang terdiri dari lima orang atau kurang.
Batasan yang diuraikan Shaw melibatkan tindak komunikasi sebagai karakteristik yang esensial dari kelompok. Masih menurut Shaw, kelompok yang baik adalah kelompok yang dapat bertahan untuk suatu periode waktu yang relative panjang, memiliki tujuan, dan memiliki struktur interaksi.
Pengantar singkat ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada kita, bahwa kelompok merupakan bagian yang sangat penting dari aktivitas suatu masyarakat. Clovis Sheperd menjelaskan, bahwa kelompok merupakan suatu mekanisme mendasar dari sosialisasi dan sumber utama dar i tatanan sosial. Orang mendapatkan nilai dan sikap mereka, sebagian besar dari kelompok di mana mereka berada. Karenanya, kelompok (kecil) memberikan suatu fungsi perantara yang penting antara individu dengan masyarakat luas.
• Teori Perbandingan Sosial (Social Comoarison Theory)
Teori atau pendekatan perbandingan sosial mengemukakan bahwa tindak komunikasi dalam kelompok berlangsung karena adanya kebutuhan-kebutuhan dari individu untuk embendingkan sikap, pendapat dan kemampuannya dengan individu-individu lainnya.
Dalam pandangan teori perbandingan sosial ini, tekanan seseorang untuk berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya akan mengalami peningkatan, jika muncul ketidak setujuan yang berkaitan dngan suatu kejadian atau peristiwa, kalau tingkat kepentingannya peristiwa tersebut meningkat dan apabila hubungan dalam kelompok (group cohesivenes) juga menunjukkan peningkatan. Selain itu, setelah suatu keputusan kelompok dibuat, para anggota kelompok akan saling berkomunikasi untuk mendapatkan informasi yang mendukung atau membuat individu-individu dalam kelompok lebih merasa senang dengan keputusan yang dibuat tersebut.
Sebagai tambahan catatan, teori perbandingan sosial ini diupayakan untuk dapat menjelaskan bagaimana tindak komunikasi dari para anggota kelompok mengalami peningkatan atau penuruanan.
• Teori Kepribadian Kelompok (Group Syntality Theori)
Teori kepribadian merupakan studi mengenai interaksi kelompok pada basis dimensi kelompok dan dinamika kepribadian. Dimensi kelompok merujuk pada cirri-ciri populasi atau karakteristik individu seperti umur, kecendekiawanan (intelligence), sementara cirri-ciri kepribadian atau suatu efek yang memungkinkan kelompok bertindak sebagai satu keseluruhan, merujuk pada peran-peran specific, klik dan posisi status. Dinamika kepribadian diukur oleh apa yang disebut dengan synergy, yaitu tingkat atau derajat energi dari setiap individu yang dibawa dalam kelompok untuk digunakan dalam melaksanakan tujuan-tujuan kelompok. Banyak dari synergy atau energi kelompok harus dicurahkan ke arah pemeliharaan keselarasan dan keterpaduan kelompok.
• Teori Percakapan Kelompok (Group Achievement Theory)
Teori percakapan kelompok ini sangat berkaitan dengan produktivitas kelompok atau upaya-upaya untuk mencapainya melalui pemeriksaaan masukan dari anggota (member inputs), variable-variabel perantara (mediating variables), dan keluaran dari kelompok (group output). Masukan atau input yang berasal dari anggota kelompok dapat diidentifikasikan sebagai perilaku, interkasi dan harapan-harapan (expectation) yang bersifat individual. Sedangkan variable-variabel perantara merujuk pada struktur-struktur formal dan struktur peran dari kelompok seperti status, norma, dan tujuan-tujuan kelompok.
• Teori Pertukaran Sosial (Socual Exchange Theory)
Teori pertukaran sosial ini didasarkan pada pemikiran bahwa seseorang dapat mencapai satu pengertian mengenai sifat kompleks dari kelompok dengan mengkaji hubungan di antara dua orang (dydic relationship). Suatu kelompok dipertimbangkan untuk kumpulan dari hubungan antara dua partisipan tersebut.
Perumusan tersebut mengasumsikan bahwa interaksi menusia melibatkan pertukaran barang dan jasa, dan bahwa biaya (cost) dan imbalan (reward) dipahami dalam situasi yang akan disajikan untuk mendapatkan respon dari individu-individu selama interaksi sosial. Jika imbalan dirasakan tidak cukup atau lebih banyak dari biaya, maka interaksi kelompok akan diakhiri atau individu-individu yang terlibat akan mengubah perilaku mereka untuk melindungi imbalan apa pun yang mereka cari.
Pendekatan pertukaran social ini penting karena berusaha menjelaskan fenomena kelompok dalam lingkup konsep-konsep ekonomi dan perilaku mengenai biaya dan imbalan.
• Teori Sosiometrik (Sociometric Theory)
Sosiometrik merupakan sebuah konsepsi psikologis yang mengacu pada suatu pendekatan metodolohis dan teoritis terhadap kelompok. Asumsi yang dimunculkan adalah bahwa individu-individu dalam kelompok yang merasa tertarik satu sama lain akan lebih banyak melakukan tindak komunikasi, sebaliknya individu-individu yang saling menolak, hanya sedikit atau kurang melaksanakan tindak komunikasi.
Sumber: http://newchoi.blogspot.com
kuliah.dagdigdug.com
Rabu, 29 September 2010
Delapan orientasi teoritis dalam dinamika kelompok
Menurut Margono Slamet, ada 8 (delapan) unsur-unsur dinamika kelompok, yaitu:
(1) tujuan kelompok, adalah arah bagi berjalannya kelompok dalam melakukan aktifitas atau kegiatan yang akan dilakukan, dan ini menjadi begitu penting dalam membangun kelompok.
(2) struktur kelompok, adalah pola interaksi yang stabil antara anggota kelompok, yang berkaitan dengan bentuk pengelompokan, bentuk hubungan, perbedaan kedudukan antaranggota, pembagian tugas dan sebagainya.
(3) fungsi tugas, yang wajib dikerjakan atau yang ditentukan untuk dilakukan; pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang.
(4) mengembangkan dan membina kelompok,menjadikan suatu kelompok berkembang dengan cara pembinaan yang baik guna mendapatkan kesejahteraan bersama antar anggota kelompok.
(5) kekompakan kelompok,menanamkan kekompakan antar anggota kelompok agar menjadi kelompok yang solid.
(6) suasana kelompok, menciptakan suasana yang nyaman didalam kelompok.
(7) tekanan pada kelompok,
(8) efektivitas kelompok, menjalankan kegiatan di dalam kelompok secara efektif dan bersinergi.
Referensi : www.p2kp.org
http://pustaka.ut.ac.id
(1) tujuan kelompok, adalah arah bagi berjalannya kelompok dalam melakukan aktifitas atau kegiatan yang akan dilakukan, dan ini menjadi begitu penting dalam membangun kelompok.
(2) struktur kelompok, adalah pola interaksi yang stabil antara anggota kelompok, yang berkaitan dengan bentuk pengelompokan, bentuk hubungan, perbedaan kedudukan antaranggota, pembagian tugas dan sebagainya.
(3) fungsi tugas, yang wajib dikerjakan atau yang ditentukan untuk dilakukan; pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang.
(4) mengembangkan dan membina kelompok,menjadikan suatu kelompok berkembang dengan cara pembinaan yang baik guna mendapatkan kesejahteraan bersama antar anggota kelompok.
(5) kekompakan kelompok,menanamkan kekompakan antar anggota kelompok agar menjadi kelompok yang solid.
(6) suasana kelompok, menciptakan suasana yang nyaman didalam kelompok.
(7) tekanan pada kelompok,
(8) efektivitas kelompok, menjalankan kegiatan di dalam kelompok secara efektif dan bersinergi.
Referensi : www.p2kp.org
http://pustaka.ut.ac.id
DINAMIKA KELOMPOK
Dinamika kelompok adalah analisis dari hubungan-hubungan kelompok sosial yang berdasarkan prinsip, bahwa tingkah laku dalam kelompok itu adalah hasil dari interaksi yang dinamis antara individu-individu dalam situasi sosial.
EFEKTIFITAS KERJASAMA DALAM KELOMPOK, melalui syarat-syarat :
1. Suasana ( atmosfir) : suasana kerja ditempat kelompok itu berada hendaknya memberi kesan kepada semua anggota, bahwa mereka semua setaraf.
2. Rasa aman ( threat reduction) : Perasaan aman, dan hilang rasa curiga mencurigai antara individu dalam kelompok.
3. Kepemimpinan bergilir ( distributive leadership) : Kepemimpinan yang dilakukan secara bergilir yang dapat membangun kepercayaan pada diri anggota kelompok kerja, bahwa merekapun dapat dan mempunyai kesempatan dan kemampuan yang sama dengan pemimpinan yang ada
4. Perumusan tujuan ( goal formulation) : Perumusan tujuan kelompok harus jelas, sehingga dapat meningkatkan produktifitas kerja anggota kelompok.
5. Fleksibilitas (flexibility) : Perencanaan kegiatan harus cukup mengandung fleksibiltas, sehingga dapat dilaksanakan juga bila keadaan sudah berubah, baik karena keadaan dari luar maupun dari dalam kelompok.
6. Mufakat (consensus) : Prinsip kebersamaan kelompok merupakan bentuk dari musyawarah dan mufakat. Sehingga rasa kebersamaan kerja terbentuk.
7. Evaluasi yang sinambung ( continul evaluation) : Penilaian terhadap kegiatan yang telah dilakukan harus dibuat secara terus menerus, sehingga dapat menimbulkan motifasi baru terhadap program yang akan dijalankan berikutnya.
KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF (DINAMIKA KELOMPOK)
Kepemimpinan yg berdasarkan Group Centered Leardership, menjelaskan bahwa setiap orang bisa jadi pemimpin asal ia mampu mementingkan kebutuhan kelompoknya.(dipercayai oleh kelompok dimana dia berada).
Kepemimpinan adalah merupakan keseluruhan dari keterampilan (skill) dan sikap (attitude) dan bisa dipelajari.
Tugas seorang pemimpin dibagi dalam 3 bidang utama : ( Floyd Ruch)
1. Structuring the situation. (membuat struktur yang jelas organisasinya)
2. Controling group behavior.(mengawasi dan menyalurkan tingkahlaku kelompok)
3. Spokesman of the group. (sbg juru bicara dalam dalam kelompok)
Berdasarkan Cara-cara memimpin, maka kepemimpinan dibagi :
1. Pemimpin yang otoriter. (keputusan dilakukan secara otoriter)
2. Demokratis. (keputusan ditentukan bersama oleh Pemimpin dan anggota kelompok)
3. Laissez faire. ( keputusan hanya ditentukan oleh anggota kelompok, pemimpin bersifat pasif).
Referensi : Bangdim.com
EFEKTIFITAS KERJASAMA DALAM KELOMPOK, melalui syarat-syarat :
1. Suasana ( atmosfir) : suasana kerja ditempat kelompok itu berada hendaknya memberi kesan kepada semua anggota, bahwa mereka semua setaraf.
2. Rasa aman ( threat reduction) : Perasaan aman, dan hilang rasa curiga mencurigai antara individu dalam kelompok.
3. Kepemimpinan bergilir ( distributive leadership) : Kepemimpinan yang dilakukan secara bergilir yang dapat membangun kepercayaan pada diri anggota kelompok kerja, bahwa merekapun dapat dan mempunyai kesempatan dan kemampuan yang sama dengan pemimpinan yang ada
4. Perumusan tujuan ( goal formulation) : Perumusan tujuan kelompok harus jelas, sehingga dapat meningkatkan produktifitas kerja anggota kelompok.
5. Fleksibilitas (flexibility) : Perencanaan kegiatan harus cukup mengandung fleksibiltas, sehingga dapat dilaksanakan juga bila keadaan sudah berubah, baik karena keadaan dari luar maupun dari dalam kelompok.
6. Mufakat (consensus) : Prinsip kebersamaan kelompok merupakan bentuk dari musyawarah dan mufakat. Sehingga rasa kebersamaan kerja terbentuk.
7. Evaluasi yang sinambung ( continul evaluation) : Penilaian terhadap kegiatan yang telah dilakukan harus dibuat secara terus menerus, sehingga dapat menimbulkan motifasi baru terhadap program yang akan dijalankan berikutnya.
KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF (DINAMIKA KELOMPOK)
Kepemimpinan yg berdasarkan Group Centered Leardership, menjelaskan bahwa setiap orang bisa jadi pemimpin asal ia mampu mementingkan kebutuhan kelompoknya.(dipercayai oleh kelompok dimana dia berada).
Kepemimpinan adalah merupakan keseluruhan dari keterampilan (skill) dan sikap (attitude) dan bisa dipelajari.
Tugas seorang pemimpin dibagi dalam 3 bidang utama : ( Floyd Ruch)
1. Structuring the situation. (membuat struktur yang jelas organisasinya)
2. Controling group behavior.(mengawasi dan menyalurkan tingkahlaku kelompok)
3. Spokesman of the group. (sbg juru bicara dalam dalam kelompok)
Berdasarkan Cara-cara memimpin, maka kepemimpinan dibagi :
1. Pemimpin yang otoriter. (keputusan dilakukan secara otoriter)
2. Demokratis. (keputusan ditentukan bersama oleh Pemimpin dan anggota kelompok)
3. Laissez faire. ( keputusan hanya ditentukan oleh anggota kelompok, pemimpin bersifat pasif).
Referensi : Bangdim.com
Pengertian kelompok
Sebagai makhluk social, manusia akan selalu hidup dalam kelompok-kelompok tertentu. Hal itu karena adanya kenyataan bahwa upaya manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya akan lebih produktif diperoleh dalam kehidupan berkelompok.
Kelompok ialah sekumpulan manusia yang memiliki persamaan cirri dan memiliki pola interaksi yang terorganisasi.
Marvin menyatakan bahwa pengertian kelompok dapat digolongkan berdasarkan:
1) persepsi dan kognisi kelompok;
2) motivasi dan pemuasan kebutuhan;
3) tujuan kelompok;
4) organisasi kelompok;
5) saling ketergantungan masing-masing anggota kelompok
6) interaksi
Ada 2 penggolongan utama dalam kelompok sosial :
1. Kelompok Primer ( Primary group)
2. Kelompok Sekunder ( Secondarya group).
3. Kelompok formal dan informal.
1. Kelompok Primer, dengan ciri-ciri : Interaksi sosial terjadi lebih intensif, terjadi face to face (saling mengenal dan sering), dan bersifat kekeluargaan.
Contoh : Keluarga, Rumah tangga, kelompok sepermainan sekolah, kelompok belajar, kelompok pengajian.
2. Kelompok Sekunder, dengan ciri-ciri : Hubungan tidak langsung, berbentuk formal dan bersifat formal. Fungsia dan peranannya : mencapai suatu tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama secara obyektif dan rasional.
Contoh : Partai politik, perhimpunan pekerja, organisasi perusahaan dan sebagainya. yang bersifat provit thingking.
3. Kelompok formal dan informal, dengan ciri-ciri :
Kelompok formal Kelompok informal
1. Resmi dan ada aturan tertulis 1. Tidak resmi dan tidak didukung peraturan tertulis.
2. Aturan dirumuskan secara tertulis 2. Mempunyai aturan yang ada tetapi tidak dirumuskan secara tertulis.
3. Ciri interaksi : sama pada kelompok sekunder 3. Ciri interaksi : seperti pada kelompok Primer.
CIRI-CIRI UTAMA KELOMPOK :
1. Mempunyai dorongan (motif) yang sama. Tercermin dari : Keinsyafan yang sama terhadap kelompok; Tujuan yang sama hendak di capai; Mempunyai peran yang sama dalam kelompok (Sence of belongingnes); Menciptakan rasa kerjasama yang erat.
2. Mempunyai pembagian tugas yang jelas berdasarkn perbedaan kecakapan dan kemampuan setiap individu.
3. Mempunyai norma kelompok.
Referensi : http://pustaka.ut.ac.id
Bangdim.com
Tim sosiologi.2006.sosiologi1.jakarta:pt yudhistira
Kelompok ialah sekumpulan manusia yang memiliki persamaan cirri dan memiliki pola interaksi yang terorganisasi.
Marvin menyatakan bahwa pengertian kelompok dapat digolongkan berdasarkan:
1) persepsi dan kognisi kelompok;
2) motivasi dan pemuasan kebutuhan;
3) tujuan kelompok;
4) organisasi kelompok;
5) saling ketergantungan masing-masing anggota kelompok
6) interaksi
Ada 2 penggolongan utama dalam kelompok sosial :
1. Kelompok Primer ( Primary group)
2. Kelompok Sekunder ( Secondarya group).
3. Kelompok formal dan informal.
1. Kelompok Primer, dengan ciri-ciri : Interaksi sosial terjadi lebih intensif, terjadi face to face (saling mengenal dan sering), dan bersifat kekeluargaan.
Contoh : Keluarga, Rumah tangga, kelompok sepermainan sekolah, kelompok belajar, kelompok pengajian.
2. Kelompok Sekunder, dengan ciri-ciri : Hubungan tidak langsung, berbentuk formal dan bersifat formal. Fungsia dan peranannya : mencapai suatu tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama secara obyektif dan rasional.
Contoh : Partai politik, perhimpunan pekerja, organisasi perusahaan dan sebagainya. yang bersifat provit thingking.
3. Kelompok formal dan informal, dengan ciri-ciri :
Kelompok formal Kelompok informal
1. Resmi dan ada aturan tertulis 1. Tidak resmi dan tidak didukung peraturan tertulis.
2. Aturan dirumuskan secara tertulis 2. Mempunyai aturan yang ada tetapi tidak dirumuskan secara tertulis.
3. Ciri interaksi : sama pada kelompok sekunder 3. Ciri interaksi : seperti pada kelompok Primer.
CIRI-CIRI UTAMA KELOMPOK :
1. Mempunyai dorongan (motif) yang sama. Tercermin dari : Keinsyafan yang sama terhadap kelompok; Tujuan yang sama hendak di capai; Mempunyai peran yang sama dalam kelompok (Sence of belongingnes); Menciptakan rasa kerjasama yang erat.
2. Mempunyai pembagian tugas yang jelas berdasarkn perbedaan kecakapan dan kemampuan setiap individu.
3. Mempunyai norma kelompok.
Referensi : http://pustaka.ut.ac.id
Bangdim.com
Tim sosiologi.2006.sosiologi1.jakarta:pt yudhistira
Kaitannya psikologi kelompok dalam psikologi sosial
DEFINISI PSIKOLOGI SOSIAL ialah ilmu yang mempelajari :
1. Tingkah laku manusia.
2. Tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
3. pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi perangsang social.
Kesimpulannya : Ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menyelidiki pengalaman dan tingkahlaku individu manusia yang dipengaruhi/ditimbulkan oleh situasi-situasi social.
2. Tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
3. pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi perangsang social.
Kesimpulannya : Ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menyelidiki pengalaman dan tingkahlaku individu manusia yang dipengaruhi/ditimbulkan oleh situasi-situasi social.
INTERAKSI SOSIAL.
PENGERTIAN : Interaksi adalah suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu manusia, dimana kelakuan indivudu yang satu mempengaruhi, mengubah dan memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.
Dalam interaksi social terjadi proses yang kompleks, baik interaksi social yang secara tunggal maupun secara kelompok, selalu dipengaruhi factor-faktor sbb :
1. Faktor Imitasi.
2. Faktor Sugesti.
3. Faktor Identifikasi.
4. Faktor Simpati.
1. Faktor Imitasi, adalah factor peniruan yang dilakukan individu terhadap apa yang diterima melalui pancaindra, baik berupa ucapan, ketrampilan maupun perilaku. Ada beberapa syarat bisa terjadi proses imitas, antara lain :
a. Minat dan perhatian yang cukup besar akan hal tersebut.
b. Sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang dimitasikan.
c. Keinginan untuk mendapatkan penghargaan sosial yang tinggi.
2. Faktor Sugesti, adalah proses dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Ada beberapa syarat bisa terjadi sugesti, antara lain :
a. Karena hambatan berpikir.
b. Karena keadaan pikiran terpecah-pecah.
c. Karena otoritas.
d. Karena mayoritas.
e. Karena merasa sama dan bersedia terhadap sesuatu hal.
3. Faktor Identifikasi, adalah proses interaksi karena ada keinginan seseorang untuk menyamakan dirinya dengan sesuatu hal atau keadaan.
PENGERTIAN : Interaksi adalah suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu manusia, dimana kelakuan indivudu yang satu mempengaruhi, mengubah dan memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.
Dalam interaksi social terjadi proses yang kompleks, baik interaksi social yang secara tunggal maupun secara kelompok, selalu dipengaruhi factor-faktor sbb :
1. Faktor Imitasi.
2. Faktor Sugesti.
3. Faktor Identifikasi.
4. Faktor Simpati.
1. Faktor Imitasi, adalah factor peniruan yang dilakukan individu terhadap apa yang diterima melalui pancaindra, baik berupa ucapan, ketrampilan maupun perilaku. Ada beberapa syarat bisa terjadi proses imitas, antara lain :
a. Minat dan perhatian yang cukup besar akan hal tersebut.
b. Sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang dimitasikan.
c. Keinginan untuk mendapatkan penghargaan sosial yang tinggi.
2. Faktor Sugesti, adalah proses dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Ada beberapa syarat bisa terjadi sugesti, antara lain :
a. Karena hambatan berpikir.
b. Karena keadaan pikiran terpecah-pecah.
c. Karena otoritas.
d. Karena mayoritas.
e. Karena merasa sama dan bersedia terhadap sesuatu hal.
3. Faktor Identifikasi, adalah proses interaksi karena ada keinginan seseorang untuk menyamakan dirinya dengan sesuatu hal atau keadaan.
4. Faktor Simpati, adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaaan.
dekat karena proses interaksi yang intensif, sehingga tidak begitu mudah untuk menghilangkan sebuah kesan.
dekat karena proses interaksi yang intensif, sehingga tidak begitu mudah untuk menghilangkan sebuah kesan.
SITUASI SOSIAL.
Situasi sosial adalah tiap-tiap situasi di mana terdapat saling hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Jadi tiap terjadi interaksi sosial dapatlah disebut situasi sosial.
Situasi sosial dapat dibagi dalam 2 golongan :
a. Togethersness situation (situasi kebersamaan)
b. Group situation (situasi kelompok sosial).
a. Situasi kebersamaan, dengan ciri-ciri :
1) Ikatan interaksi secara kebetulan.
2) Tidak mempunyai interaksi yg khas.
3) Disebut kelompok massa.
b. Situasi kelompok sosial, dengan ciri-ciri :
1) Ikatan interaksi secara terstruktur, mendalam dan teratur.
2) Mempunyai interaksi yang khusus/khas.
3) Disebut kelompok sosial.
Situasi sosial adalah tiap-tiap situasi di mana terdapat saling hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Jadi tiap terjadi interaksi sosial dapatlah disebut situasi sosial.
Situasi sosial dapat dibagi dalam 2 golongan :
a. Togethersness situation (situasi kebersamaan)
b. Group situation (situasi kelompok sosial).
a. Situasi kebersamaan, dengan ciri-ciri :
1) Ikatan interaksi secara kebetulan.
2) Tidak mempunyai interaksi yg khas.
3) Disebut kelompok massa.
b. Situasi kelompok sosial, dengan ciri-ciri :
1) Ikatan interaksi secara terstruktur, mendalam dan teratur.
2) Mempunyai interaksi yang khusus/khas.
3) Disebut kelompok sosial.
refrensi : bangdim.com
Langganan:
Komentar (Atom)