1. Adanya kepatuhan
2. Formasi Koalisi (sub kelompok dalam kelompok yang lebih besar)
Perubahan-perubahan dalam power holder:
1. Memperlebar jarak sosial antara dirinya dengan orang lain yang tidak punya power
2. Yakin bahwa yang nonpowerful tidak dapat dipercaya dan butuh “waskat” (pengawasan yang ketat)
3. Tidak menilai pekerjaan dan kemampuan dari orang yang kurang berkuasa
Perubahan-perubahan ketika powerless:
a. pasif dan menerima situasi
b. memberontak akan ketidaksamaan dan berusaha mendapatkan persamaan struktur
c. berusaha meningkatkan power secara tertutup dengan koalisi
d. menarik diri secara total dari kelompok
Referensi : klara innata arishanti
Selasa, 30 November 2010
dasar-dasar kekuasaan
Dasar atau sumber kekuasaan dibagi menjadi dua pengelompokan umum : formal
dan personal.
1. Kekuasaan Formal
Kekuasaan formal didasarkan pada posisi individu dalam organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan memaksa atau menghadiahi, wewenang formal, dan kendali atas informasi.
a. Kekuasaan Paksaan (coercive power)
Ketergantungan pada rasa takut Seseorang bereaksi terhadap kekuasaan ini karena rasa takut akan akibat negative yang mungkin terjadi apabila ia gagal memenuhi. Misalnya dikenakan sanksi-sanksi fisik dan psikologis.
b. Kekuasaan Hadiah/Imbalan (reward power), lawan dari kekuasaan
paksaan Seseorang mematuhi kemauan atau pengarahan orang lain karena
kepatuhan itu menghasilkan manfaat yang positif. Imbalan dapat berupa keuangan ( tingkat upah, kenaikan gaji, bonus ) atau nonkeuangan ( pengakuan atas jasanya, promosi, penugasan kerja yang menarik, dll).
c. Kekuasaan Hukum (legitimate power)
Menggambarkan wewenang formal untuk mengendalikan dan
menggunakan sumber daya organisasi. Posisi wewenang atau kekuasaan mencakup kekuasaan paksaan dan kekuasaan imbalan, sehingga kekuasaan hukum lebih luas daripada kekuasaan paksaan dan imbalan.
d. Kekuasaan Informasi
Berasal dari akses dan pengendalian atas informasi Orang-orang dalam organisasi yang memiliki data atau pengetahuan yang dibutuhkan oleh orang lain dapat membuat orang lain tergantung pada mereka.
2. Kekuasaan Personal
Kekuasaan personal tidak didasarkan pada posisi formal pada organisasi. Ada tiga dasar dari kekuasaan personal, yaitu kepakaran, penghormatan dan kekaguman dari orang lain, serta karisma.
a. Kekuasaan Pakar (expert power)
Pengaruh yang dimilki seseorang sebagai akibat dari kepakaran atau keahlian, ketrampilan istimewa, dan pengetahuan.
b. Kekuasaan Rujukan (referent power)
Didasarkan pada identifikasi pada orang yang mempunyai sumberdaya atau ciri pribadi yang diinginkan orang lain. Kekuasaan rujukan berkembang dari pengaguman seseorang terhadap orang lain dan keinginan untuk menjadi orang tersebut.
c. Kekuasaan Kharismatik Merupakan perluasan dari kekuasaan rujukan yang berasal dari kepribadian dan gaya interpersonal individu.
Referensi : http://www.scribd.com/doc/22054342/Kekuasaan-Dan-Politik
dan personal.
1. Kekuasaan Formal
Kekuasaan formal didasarkan pada posisi individu dalam organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan memaksa atau menghadiahi, wewenang formal, dan kendali atas informasi.
a. Kekuasaan Paksaan (coercive power)
Ketergantungan pada rasa takut Seseorang bereaksi terhadap kekuasaan ini karena rasa takut akan akibat negative yang mungkin terjadi apabila ia gagal memenuhi. Misalnya dikenakan sanksi-sanksi fisik dan psikologis.
b. Kekuasaan Hadiah/Imbalan (reward power), lawan dari kekuasaan
paksaan Seseorang mematuhi kemauan atau pengarahan orang lain karena
kepatuhan itu menghasilkan manfaat yang positif. Imbalan dapat berupa keuangan ( tingkat upah, kenaikan gaji, bonus ) atau nonkeuangan ( pengakuan atas jasanya, promosi, penugasan kerja yang menarik, dll).
c. Kekuasaan Hukum (legitimate power)
Menggambarkan wewenang formal untuk mengendalikan dan
menggunakan sumber daya organisasi. Posisi wewenang atau kekuasaan mencakup kekuasaan paksaan dan kekuasaan imbalan, sehingga kekuasaan hukum lebih luas daripada kekuasaan paksaan dan imbalan.
d. Kekuasaan Informasi
Berasal dari akses dan pengendalian atas informasi Orang-orang dalam organisasi yang memiliki data atau pengetahuan yang dibutuhkan oleh orang lain dapat membuat orang lain tergantung pada mereka.
2. Kekuasaan Personal
Kekuasaan personal tidak didasarkan pada posisi formal pada organisasi. Ada tiga dasar dari kekuasaan personal, yaitu kepakaran, penghormatan dan kekaguman dari orang lain, serta karisma.
a. Kekuasaan Pakar (expert power)
Pengaruh yang dimilki seseorang sebagai akibat dari kepakaran atau keahlian, ketrampilan istimewa, dan pengetahuan.
b. Kekuasaan Rujukan (referent power)
Didasarkan pada identifikasi pada orang yang mempunyai sumberdaya atau ciri pribadi yang diinginkan orang lain. Kekuasaan rujukan berkembang dari pengaguman seseorang terhadap orang lain dan keinginan untuk menjadi orang tersebut.
c. Kekuasaan Kharismatik Merupakan perluasan dari kekuasaan rujukan yang berasal dari kepribadian dan gaya interpersonal individu.
Referensi : http://www.scribd.com/doc/22054342/Kekuasaan-Dan-Politik
Sabtu, 27 November 2010
tujuan kelompok
Tujuan ( a goal) merupakan hasil akhir yang dicapai suatu kelompok yang sedang bekerja. Tujuan kelompok di susun atas berdasarkan moyoritas individu yang bekerja untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan merupakan pedoman dalam pencapaian program dan aktivitas serta memungkinkan untuk terukurnya efektifitas dan efisiensi kelompok. Komitmen anggota akan tergantung kepada ketertarikannya terhadap kelompok dan tujuan kelompok. Tingkat resiko dalam pencapaian tujuan kelompok harus ditetapkan dan dipantau secara hati-hati, resiko kegagalan yang moderat lebih termotivasi.
menurut Winkel & Sri Hastuti (2004: 547) adalah menunjang perkembangan pribadi dan perkembangan sosial masing-masing anggota kelompok serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna aneka tujuan yang bermakna bagi para partisipan.
Tujuan kelompok yang efektif harus mempunyai aspek-aspek sebagai berikut:
- dapat didefinisikan secara operasional, dapat diukur dan diamati
- Punya makna bagi anggota kelompok, relevan, realistik dapat diterima dan dapat dicapai
- anggota kelompok mempunyai orientasi terhadap tujuan yang telah ditetapkan
- adanya keseimbangan tugas dan aktivitas dalam mencapai tujuan individu dan kelompok
- bersifat menarik dan menantang serta mempunyai resiko kegagalan yang kecil dalam mencapainya
- adanya kemudahan untuk menjelaskan dan mengubah tujuan kelompok
- berapa lama waktu yang diperlukan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan kelompok
Referensi : http://www.scribd.com/doc/38833655/Tujuan-Pribadi-Dan-Tujuan-Kelompok
http://belajarpsikologi.com/tujuan-bimbingan-kelompok
menurut Winkel & Sri Hastuti (2004: 547) adalah menunjang perkembangan pribadi dan perkembangan sosial masing-masing anggota kelompok serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna aneka tujuan yang bermakna bagi para partisipan.
Tujuan kelompok yang efektif harus mempunyai aspek-aspek sebagai berikut:
- dapat didefinisikan secara operasional, dapat diukur dan diamati
- Punya makna bagi anggota kelompok, relevan, realistik dapat diterima dan dapat dicapai
- anggota kelompok mempunyai orientasi terhadap tujuan yang telah ditetapkan
- adanya keseimbangan tugas dan aktivitas dalam mencapai tujuan individu dan kelompok
- bersifat menarik dan menantang serta mempunyai resiko kegagalan yang kecil dalam mencapainya
- adanya kemudahan untuk menjelaskan dan mengubah tujuan kelompok
- berapa lama waktu yang diperlukan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan kelompok
Referensi : http://www.scribd.com/doc/38833655/Tujuan-Pribadi-Dan-Tujuan-Kelompok
http://belajarpsikologi.com/tujuan-bimbingan-kelompok
Sabtu, 20 November 2010
Kohesivitas dan interaksi
Di dalam suatu kelompok yang anggota-anggotanya memiliki kohesivitas tinggi akan memiliki komunikasi yang intensif antar individu-individunya, saling menghargai yang tinggi, interaksi yang kuat, saling memiliki rasa aman dan akan cenderung melakukan suatu kerja sama. Dari karakteristik tersebut dapat diprediksi bahwa kelompok akan memiliki peran yang sangat kuat disamping sebagai identitas baru dan juga sebagai kontrol sosial bagi tiap anggota individunya. Pada tahap-tahap tertentu peran kelompok akan sangat dominan terhadap anggotanya sehingga mampu mengkaburkan peran-peran individu di dalam kelompok.Setiap tindakan yang akan dilakukan oleh anggota kelompok akan mengacu pada norma kelompok yang dianutnya.
Sumber : http://umum.kompasiana.com
Sumber : http://umum.kompasiana.com
Kohesivitas dan pengaruh sosial
Terbentuknya berbagai kelompok dalam kehidupan manusia merupakan wujud dari hakikat manusia, khususnya dari dimensi kesosialannya. Manusia adalah makhluk sosial tang tak mungkin dapat hidup berkembang secara layak apabila ia hidup sendiri dan menyendiri. Oleh akrna itulah, manusia berkelompok atau membentuk sebuah kelompok untuk hidup bersama dan berkumpul.
Kelompok pada dasarnya dimulai dari berkumpulnya sejumlah orang. Orang-orang ini menjunjung suatu atau beberapa kualitas tertentu sehingga dengan demikian kumpulan tersebut menjadi sebuah kelompok. Tetapi perlu diingat bahwa orang yang berkumpul dalam sebuah ruangan dan berjumlah besar tidak dapat dikatakan sebagai kelompok dikarenakan tidak adanya kesepakatan atau konsensus dalam mencapai sebuah tujuan atau tepatnya menjunjung suatu atau beberapa kualitas.
Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada mereka diberitahukan tujuan yang akan dicapai.
Sumber : http://prari007luck.wordpress.com
Kelompok pada dasarnya dimulai dari berkumpulnya sejumlah orang. Orang-orang ini menjunjung suatu atau beberapa kualitas tertentu sehingga dengan demikian kumpulan tersebut menjadi sebuah kelompok. Tetapi perlu diingat bahwa orang yang berkumpul dalam sebuah ruangan dan berjumlah besar tidak dapat dikatakan sebagai kelompok dikarenakan tidak adanya kesepakatan atau konsensus dalam mencapai sebuah tujuan atau tepatnya menjunjung suatu atau beberapa kualitas.
Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada mereka diberitahukan tujuan yang akan dicapai.
Sumber : http://prari007luck.wordpress.com
Faktor-faktor yang menurunkan kohesivitas kelompok
• Ketidaksepakatan kelompok yaitu dimana di dalam para anggota kelompok tidak memiliki ketidaksepakatan di dalam memberikan suatu pendapat yang akan menimbulkan menurunnya kohesivitas suatu kelompok.
• Jumlah anggota yang besar yaitu dapat menimbulkan menurunnya kohesivitas kelompok dikarenakan banyaknya pendapat-pendapat dari para anggota kelompok yang sulit untuk desepakati menjadi satu tujuan bersama.
• Pengalaman tidak menyenangkan yaitu dimana dari salah satu anggota kelompok memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan yang berupa suatu konflik antar anggota kelompok yang menyebabkan menurunnya kohesivitas di suatu kelompok.
• Dominasi oleh salah satu anggota yaitu dimana didalam kelompok ada salah satu anggota yang terlalu mendominasi yang menyebabkan iri di antara anggota kelompok yang dapat menimbulkan perpecahan di dalam kelompok.
• Kompetisi antar anggota kelompok yaitu dimana di dalam suatu anggota kelompok terjadi kompetisi yang bertujuan untuk menunjukan siapa yang paling hebat di dalam kelompok yang dapat menimbulkan konflik juga di dalam kelompok.
• Jumlah anggota yang besar yaitu dapat menimbulkan menurunnya kohesivitas kelompok dikarenakan banyaknya pendapat-pendapat dari para anggota kelompok yang sulit untuk desepakati menjadi satu tujuan bersama.
• Pengalaman tidak menyenangkan yaitu dimana dari salah satu anggota kelompok memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan yang berupa suatu konflik antar anggota kelompok yang menyebabkan menurunnya kohesivitas di suatu kelompok.
• Dominasi oleh salah satu anggota yaitu dimana didalam kelompok ada salah satu anggota yang terlalu mendominasi yang menyebabkan iri di antara anggota kelompok yang dapat menimbulkan perpecahan di dalam kelompok.
• Kompetisi antar anggota kelompok yaitu dimana di dalam suatu anggota kelompok terjadi kompetisi yang bertujuan untuk menunjukan siapa yang paling hebat di dalam kelompok yang dapat menimbulkan konflik juga di dalam kelompok.
Faktor-faktor yang meningkatkan kohesivitas kelompok
• Kesepakatan tujuan kelompok yaitu merupakan di dalam suatu kelompok para anggotanya harus memiliki kesepakatan bersama untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan di dalam suatu kelompok tersebut.
• Frekuensi interaksi yaitu dimana setiap kelompok harus memilik frekuensi yang tinggi dalam berinteraksi diantara anggota kelompok guna membentuk kelompok yang efektif dan mencapai tujuan bersama di suatu kelompok.
• Ketertarikan pribadi yaitu dimana di dalam pribadi antar anggota kelompok harus memiliki ketertarikan pada setiap anggota guna mempermudah berinteraksi dan mencapai suatu kesepakatan bersama.
• Frekuensi interaksi yaitu dimana setiap kelompok harus memilik frekuensi yang tinggi dalam berinteraksi diantara anggota kelompok guna membentuk kelompok yang efektif dan mencapai tujuan bersama di suatu kelompok.
• Ketertarikan pribadi yaitu dimana di dalam pribadi antar anggota kelompok harus memiliki ketertarikan pada setiap anggota guna mempermudah berinteraksi dan mencapai suatu kesepakatan bersama.
Pengertian kohesivitas
Kohesivitas adalah merupakan keinginan setiap anggota untuk mempertahankan keanggotaan mereka dalam kelompok, yang didukung oleh sejumlah kekuatan independen, tetapi banyak yang lebih berfokus pada ketertarikan antar anggota. (Festinger, Schater, & Back, 1950). Salah satu variable yang mempengaruhi kohesivitas menurut Lott (1965) adalah kepribadian. Collins dan Raven (1964) mendefinisikan kohesivitas adalah kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal di dalam kelompok dan mencegahnya meninggalkan kelompok.
Referensi : www.digilib.ui.ac.id
Referensi : www.digilib.ui.ac.id
Rabu, 10 November 2010
pencegahan didalam groupthink
Pencegahan di dalam groupthink
1. Membatasi pencarian keputusan secara dini
a. Meningkatkan open inquiry
b. Kepemimpinan yang efektif
c. Multiple group
2. Mengoreksi mispersepsi dan error
a. Mengakui keterbatasan
b. Empati
c. Pertemuan (kesepakatan kedua)
3. Menggunakan teknik-teknik keputusan yang efektif
a. Kelompok harus terima tantangan dengan memilih solusi yang mungkin terbaik.
b. Kelolompok harus mencari alternative solusi dengan membuat daftar
c. Evaluasi sistematik terhadap alternative-alternatif pada tahap-tahap hasil yaitu konsesus
d. Mengubah konsesus menjadi keputusan
e. Mematuhi keputusan yang diambil
Referensi : Klara innata arishanti
1. Membatasi pencarian keputusan secara dini
a. Meningkatkan open inquiry
b. Kepemimpinan yang efektif
c. Multiple group
2. Mengoreksi mispersepsi dan error
a. Mengakui keterbatasan
b. Empati
c. Pertemuan (kesepakatan kedua)
3. Menggunakan teknik-teknik keputusan yang efektif
a. Kelompok harus terima tantangan dengan memilih solusi yang mungkin terbaik.
b. Kelolompok harus mencari alternative solusi dengan membuat daftar
c. Evaluasi sistematik terhadap alternative-alternatif pada tahap-tahap hasil yaitu konsesus
d. Mengubah konsesus menjadi keputusan
e. Mematuhi keputusan yang diambil
Referensi : Klara innata arishanti
Groupthink
Groupthink
Definisi dari groupthink adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif dimana anggota-angotanya berusaha mempertahankan konsesus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.
A. Gejala dari groupthink
Tingginya tekanan konformitas
Sensor diri terhadap ide-ide yang tidak disetujui
Adanya Minguard yaitu :
- Gate keeping ialah mencegah informasi dari luar agar jangan sampai mempengaruhi kesepakatan kelompok.
- Dissent containment ialah mengabaikan mereka-mereka yang memiliki ide-ide yang bertentangan dengan kesepakatan
Persetujuan yang tampak
Kelompok selalu benar dan kuat
Ilusi moral
Persepsi bias tentang out group
Collective rationalizing
B. Penyebab dari groupthink
Kohesi yang ekstrem
Isolasi, leadership dan konflik decisional
Proses polarisasi
Referensi : Klara innata arishanti
Definisi dari groupthink adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif dimana anggota-angotanya berusaha mempertahankan konsesus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.
A. Gejala dari groupthink
Tingginya tekanan konformitas
Sensor diri terhadap ide-ide yang tidak disetujui
Adanya Minguard yaitu :
- Gate keeping ialah mencegah informasi dari luar agar jangan sampai mempengaruhi kesepakatan kelompok.
- Dissent containment ialah mengabaikan mereka-mereka yang memiliki ide-ide yang bertentangan dengan kesepakatan
Persetujuan yang tampak
Kelompok selalu benar dan kuat
Ilusi moral
Persepsi bias tentang out group
Collective rationalizing
B. Penyebab dari groupthink
Kohesi yang ekstrem
Isolasi, leadership dan konflik decisional
Proses polarisasi
Referensi : Klara innata arishanti
penyebab deindividuasi
Penyebab deindividuasi
1. Rendahnya identiafibilitas seseorang
2. Menimbulkan rasa beranggota di dalam kelompok
3. Ukuran kelompok yang dimana semakin besar suatu kelompok maka semakin mudah terjadinya deindividuasi
4. Kebangkitan personil yang dimana di dalam deindividuasi tidak jarang yang menimbulkan amarah.
1. Rendahnya identiafibilitas seseorang
2. Menimbulkan rasa beranggota di dalam kelompok
3. Ukuran kelompok yang dimana semakin besar suatu kelompok maka semakin mudah terjadinya deindividuasi
4. Kebangkitan personil yang dimana di dalam deindividuasi tidak jarang yang menimbulkan amarah.
Deindividuasi
Deindividuasi
Definisi dari deindividuasi itu sendiri adalah proses hilangnya kesadaran individu karena melebur di dalam kelompok yang merupakan pikiran kolektif.
A. Perspektif teoritis
• Teori perilaku kolektif
Kolektif berdefinisikan sebagai kumpulan individu yang lebih dari sekedar agregat, tapi juga bukan kelompok sebenarnya.
Kolektif juga mempunyai berbagai tipe yaitu:
-Social agregat ialah collective outburst (riots,mobs)
-Collective movement ialah organisasi politik,kampanye nasional
1. Teori konvergen adalah teori yang agregatnya mewakili orang dengan kebutuhannya,keinginannya dan emosi situasi crowd memicu pelepasan spontan dari perilaku-perilaku yang sebelumnya terkontrol.
2. Teori contagion (penularan) adalah emosi dan perilaku yang dapat ditransmisi dari satu orang ke orang lain sehingga orang cenderung berperilaku sangat mirip dengan orang lain.
B. Teori deindividuasi
• Kondisi yaitu yang meliputi :
-Anonimity
-Responsibility
-Anggota kelompok
-Arousal
• Keadaan terdeindividuasi
-Lost of self (awareness dan regulation)
-Self monitorinf
-Gagal memperhatikan norma norma relevan
-sedikit menggunakan penguat untuk membangkitkan diri
-Gagal melakukan rencana jangka panjang
• Perilaku deindividuasi
-Emosi yang impulsive,irasional,regresif.
-Tidak dibawah kendali stimulus
-melawan norma
-pleasurable
Referensi : klara innata arishanti
Definisi dari deindividuasi itu sendiri adalah proses hilangnya kesadaran individu karena melebur di dalam kelompok yang merupakan pikiran kolektif.
A. Perspektif teoritis
• Teori perilaku kolektif
Kolektif berdefinisikan sebagai kumpulan individu yang lebih dari sekedar agregat, tapi juga bukan kelompok sebenarnya.
Kolektif juga mempunyai berbagai tipe yaitu:
-Social agregat ialah collective outburst (riots,mobs)
-Collective movement ialah organisasi politik,kampanye nasional
1. Teori konvergen adalah teori yang agregatnya mewakili orang dengan kebutuhannya,keinginannya dan emosi situasi crowd memicu pelepasan spontan dari perilaku-perilaku yang sebelumnya terkontrol.
2. Teori contagion (penularan) adalah emosi dan perilaku yang dapat ditransmisi dari satu orang ke orang lain sehingga orang cenderung berperilaku sangat mirip dengan orang lain.
B. Teori deindividuasi
• Kondisi yaitu yang meliputi :
-Anonimity
-Responsibility
-Anggota kelompok
-Arousal
• Keadaan terdeindividuasi
-Lost of self (awareness dan regulation)
-Self monitorinf
-Gagal memperhatikan norma norma relevan
-sedikit menggunakan penguat untuk membangkitkan diri
-Gagal melakukan rencana jangka panjang
• Perilaku deindividuasi
-Emosi yang impulsive,irasional,regresif.
-Tidak dibawah kendali stimulus
-melawan norma
-pleasurable
Referensi : klara innata arishanti
Kamis, 04 November 2010
Tahapan Performing
Pelaksanaan (Performing)
• Dicirikan oleh berfungsinya kelompok
• Struktur, hirarki dan norma kelompok sudah mapan
• Kelompok sudah matang.
• Merupakan tahap terakhir bagi kelompok kerja permanen.
Tahapan performing
A. Coaction Paradigm
beberapa orang melakukan tugas dan ditempat yang sama, tetapi tidak saling berinteraksi, misalnya: ujian dikelas.
B. Audience Paradigm (passive spectators)
kehadiran orang lain justru menghambat kinerja, misalnya: menghapal
pelajaran ditengah orang banyak
Penelitian Robert Zajonc:
• Respon dominan
fasilitasi sosial yang ada meningkatkan kinerja seseorang, maka respon dominan itu sesuai.
• Respon nondominan
fasilitasi sosial yang ada menurunkan kinerja seseorang, maka respon
dominan itu tidak sesuai.
Penyebab fasilitasi sosial:
1. adanya dorongan
2. kekhawatiran akan penilaian (evaluasi) orang lain
3. distraksi (perhatian yang terpecah)
Performance Dalam Kelompok yang Berinteraksi
Tipologi tugas dari Steiner didasarkan pada kombinasi antara:
- jenis-jenis tugas yang dapat dibagi
- jenis-jenis hasil yang diinginkan
- prosedur-prosedur individu dalam memberi masukan
Memprediksi Performance Kelompok
Klasifikasi tugas penting karena:
- tipe tipe tugas yang berbeda memerlukan sumber daya yang berbeda
- jika anggota kelompok mempunyai sumberdaya tersebut maka akan sukses.
Meningkatkan performance kelompok:
1. Proses komunikasi
2. Proses perencanaan → strategi-strategi kinerja
3. Prosedur-prosedur khusus:
a. Brainstorming, terdapat 4 syarat utama:
• expressiveness : bebas mengekspresikan apa saja yang
ada dalam benak kita
• nonevaluative : tidak ada pendapat yang baik atau buruk,
semua pendapat berharga
• quantity : semakin banyak ide, semakin kreatif
• building : ide-ide yang disampaikan seperti puzzle (ide-ide
tersebut masih kasar, harus disusun dulu)
b. Nominal Group Technique (NGT)
pemimpin memberikan permasalahan ke forum lalu ditulis di
whiteboard. Setiap orang disuruh maju ke whiteboard untuk
menuliskan gagasan lalu dipilih mana yang paling baik.
c. Delphi Technique
pemimpin membuat kuesioner, anggota disuruh mengisi
kuesioner tersebut. Setelah diisi dikembalikan ke pemimpin lalu
diberi feedback, dikembalikan lagi ke anggota, demikian terus
menerus sampai ditemukan solusi yang baik
d. Synectics (bahasa Yunani = bergabung bersamanya elemenelemen
yang berbeda dan nampaknya tidak relevan)
bentuk spesial dari brainstorming. Kita disuruh berpikir lebih
kreatif, berpikir secara divergen, dapat memberikan ide bermacammacam.
Sumber : http://rinoan.staff.uns.ac.id
Klara innata arishanti
• Dicirikan oleh berfungsinya kelompok
• Struktur, hirarki dan norma kelompok sudah mapan
• Kelompok sudah matang.
• Merupakan tahap terakhir bagi kelompok kerja permanen.
Tahapan performing
A. Coaction Paradigm
beberapa orang melakukan tugas dan ditempat yang sama, tetapi tidak saling berinteraksi, misalnya: ujian dikelas.
B. Audience Paradigm (passive spectators)
kehadiran orang lain justru menghambat kinerja, misalnya: menghapal
pelajaran ditengah orang banyak
Penelitian Robert Zajonc:
• Respon dominan
fasilitasi sosial yang ada meningkatkan kinerja seseorang, maka respon dominan itu sesuai.
• Respon nondominan
fasilitasi sosial yang ada menurunkan kinerja seseorang, maka respon
dominan itu tidak sesuai.
Penyebab fasilitasi sosial:
1. adanya dorongan
2. kekhawatiran akan penilaian (evaluasi) orang lain
3. distraksi (perhatian yang terpecah)
Performance Dalam Kelompok yang Berinteraksi
Tipologi tugas dari Steiner didasarkan pada kombinasi antara:
- jenis-jenis tugas yang dapat dibagi
- jenis-jenis hasil yang diinginkan
- prosedur-prosedur individu dalam memberi masukan
Memprediksi Performance Kelompok
Klasifikasi tugas penting karena:
- tipe tipe tugas yang berbeda memerlukan sumber daya yang berbeda
- jika anggota kelompok mempunyai sumberdaya tersebut maka akan sukses.
Meningkatkan performance kelompok:
1. Proses komunikasi
2. Proses perencanaan → strategi-strategi kinerja
3. Prosedur-prosedur khusus:
a. Brainstorming, terdapat 4 syarat utama:
• expressiveness : bebas mengekspresikan apa saja yang
ada dalam benak kita
• nonevaluative : tidak ada pendapat yang baik atau buruk,
semua pendapat berharga
• quantity : semakin banyak ide, semakin kreatif
• building : ide-ide yang disampaikan seperti puzzle (ide-ide
tersebut masih kasar, harus disusun dulu)
b. Nominal Group Technique (NGT)
pemimpin memberikan permasalahan ke forum lalu ditulis di
whiteboard. Setiap orang disuruh maju ke whiteboard untuk
menuliskan gagasan lalu dipilih mana yang paling baik.
c. Delphi Technique
pemimpin membuat kuesioner, anggota disuruh mengisi
kuesioner tersebut. Setelah diisi dikembalikan ke pemimpin lalu
diberi feedback, dikembalikan lagi ke anggota, demikian terus
menerus sampai ditemukan solusi yang baik
d. Synectics (bahasa Yunani = bergabung bersamanya elemenelemen
yang berbeda dan nampaknya tidak relevan)
bentuk spesial dari brainstorming. Kita disuruh berpikir lebih
kreatif, berpikir secara divergen, dapat memberikan ide bermacammacam.
Sumber : http://rinoan.staff.uns.ac.id
Klara innata arishanti
Norming pembentukan struktur kelompok
Penormaan (Norming)
• Dicirikan oleh hubungan dan kohesivitas kelompok menjadi erat.
• Mulai bekerja efektif secara bersama-sama
• Ada perasaan kebersamaan dan perasaan berada dalam satu kelompok.
• Harapan kelompok mulai dikomunikasikan
Tahapan dalam Norming
1. Peran (role)
Peran (role) merupakan perilaku yang biasanya ditampilkan orang sebagai
anggota kelompok yang menyediakan basis harapan berkaitan dengan perilaku orang dalam posisi yang bervariasi dalam kelompok.
Perbedaan peran :
• Task roles → tugas
• Socioemotional roles → sosioemosi
Teori 3 dimensi peran :
a. dominance – submission
b. friendly – unfriendly
c. instrumentally controlled – emotionally eupressive
Konflik peran :
• interrole : konflik antara 2 atau lebih peran yang dijalani oleh 1 orang
• intrarole : konflik antara peran 1 orang dengan peran orang lain
2. Norma (norm)
Norma (norm) merupakan aturan-aturan yang menggambarkan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil oleh anggota kelompok.
3. Hubungan antar anggota
otoritas, hubungan ketertarikan, hubungan komunikasi
Sumber : http://rinoan.staff.uns.ac.id
Klara innata arishanti
• Dicirikan oleh hubungan dan kohesivitas kelompok menjadi erat.
• Mulai bekerja efektif secara bersama-sama
• Ada perasaan kebersamaan dan perasaan berada dalam satu kelompok.
• Harapan kelompok mulai dikomunikasikan
Tahapan dalam Norming
1. Peran (role)
Peran (role) merupakan perilaku yang biasanya ditampilkan orang sebagai
anggota kelompok yang menyediakan basis harapan berkaitan dengan perilaku orang dalam posisi yang bervariasi dalam kelompok.
Perbedaan peran :
• Task roles → tugas
• Socioemotional roles → sosioemosi
Teori 3 dimensi peran :
a. dominance – submission
b. friendly – unfriendly
c. instrumentally controlled – emotionally eupressive
Konflik peran :
• interrole : konflik antara 2 atau lebih peran yang dijalani oleh 1 orang
• intrarole : konflik antara peran 1 orang dengan peran orang lain
2. Norma (norm)
Norma (norm) merupakan aturan-aturan yang menggambarkan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil oleh anggota kelompok.
3. Hubungan antar anggota
otoritas, hubungan ketertarikan, hubungan komunikasi
Sumber : http://rinoan.staff.uns.ac.id
Klara innata arishanti
Langganan:
Komentar (Atom)